Jumat, 15 September 2017

Bagian dari Diri yang Sulit Dihilangkan

gambar dari tumblr.



Saya baru saja jatuh sakit tepat seminggu lalu (sebenarnya 2 minggu tapi yang seminggu awal tidak begitu parah, hanya salah urat sialan). Selama menjalani bedrest karena drop ter-horror yang pernah saya jalani, ingatan saya mencoba mengajak saya mengenang kembali masa kecil saya. Masa saat saya sering sakit-sakitan. Saat saya berusia 5 hingga 8 tahun karena terlampau sering jatuh sakit, saya tidak memiliki kesempatan untuk bergaul dengan anak-anak seusia saya. Tubuh saya yang terlalu kurus dan wajah yang terlalu sayu, membuat penampilan saya sangat aneh. Saya juga sangat jarang masuk sekolah. Saya lebih sering mengurung diri di rumah. Saya tumbuh menjadi anak yang selalu cemberut dan menggerutu, seolah hidup adalah kesialan tanpa batas. 

Adegan yang paling jelas saya ingat dari sekian kali masuk rumah sakit saat kecil adalah ketika seorang bapak-bapak asing mencoba memberikan saya jeruk miliknya. Saat itu saya jelas merasa aneh, kenapa ada bapak-bapak asing yang ingin memberikan sebuah jeruk kepada anak yang bahkan tidak sanggup untuk bangun dari bangsal. Bapak-bapak itu teman sekamar saya. Karena saya bukan orang kaya, di rumah sakit saya sekamar dengan banyak orang. Bapak saya yang saat itu menunggui saya, mengiyakan tawaran bapak-bapak asing itu. Jeruk lalu dikupaskan bapak saya. Saya hanya memakan 2 biji karena saya kurang menyukai sesuatu yang asam. Sisanya adalah ingatan tentang desir cairan yang masuk ke nadi di tangan saya melalui infus, bau rumah sakit, sulitnya minum obat yang pahit, pengalaman berganti-ganti dokter, dan wajah khawatir ibu saya. 

Segala penyakit yang saya punya, termasuk warisan dari nenek yang berupa tumor, sangat berperan penting untuk mengingatkan saya, bahwa saya masihlah manusia. Tubuh manusia yang saya miliki ini memiliki banyak keterbatasan untuk melakukan banyak hal. Ia akan memberikan sinyal berupa penyakit ini-itu untuk berkomunikasi kepada saya, terutama saat saya sudah melampaui batas kebodohan. Contohnya saat saya tidak makan seharian, saat saya tidak pernah berolahraga padahal terlalu sering duduk, dan saat saya terlalu sering tidur pagi, Terutama ketika saya tertekan (stress), tubuh saya akan dengan senang hati berkomunikasi dengan saya dengan cara mengaktifkan sel tumor dan kanker yang ada dalam tubuh saya. Saya juga tidak memungkinkan untuk terus menerus marah-marah dan memakan-makanan berlimpah lemak, karena jantung saya akan protes melalui kadar kolesterol dalam darah saya. 

Hidup dengan penyakit adalah bagian dari diri saya yang tidak mungkin dihilangkan. Penyakit adalah pertanda baik yang kerap saya anggap buruk lantaran mekanismenya yang berusaha menyeimbangkan tubuh saya selaras kembali dengan alam. Jika saya tidak diberikan penyakit, tentu saya akan menjadi manusia penuh kesombongan yang akan menguasai hak milik orang lain (harta maupun eksistensi). Lalu saya akan lupa untuk mensyukuri tubuh saya yang telah menemani saya selama 24 tahun ini. Tubuh yang memungkinkan saya melakukan banyak hal, termasuk menulis postingan ini! 

0 komentar:

Posting Komentar