Kamis, 14 Juli 2016

Pendidikan Seksualitas: Melampaui Batasan Tubuh

source dari twitter


Belum lama ini saya mengunggah status begini: 'sebagai jomblo progresif saya memutuskan akan melakukan tes kesehatan reproduksi bersama calon suami untuk malam pertama yang tenang dan nyaman'. Mayoritas tertawa dengan status saya. Hanya satu dua yang menanggapi serius. Tanggapan serius ini yang justru menarik perhatian saya. Bahwa perkara kesehatan organ reproduksi ini adalah pembahasan serius, bukan bercanda.

Gimana mau bercanda jika tingkat kematian perempuan karena kanker rahim, kanker serviks, dan kanker payudara sangat tinggi, angka kematian ibu dan anak yang terus meningkat sejak 2007, angka pengidap HIV-AIDS tertinggi adalah ibu rumah tangga, dan tidak ketinggalan angka kehamilan di luar pernikahan yang terus meningkat juga setiap tahunnya? Cek di sini dan sini

Saya teringat dengan diri saya sendiri. Bahwa saya adalah perempuan. Saya adalah bagian dari kaum saya yang menghadapi bahaya dari minimnya pendidikan seksualitas. Baik minimnya akses yang diberikan negara untuk warganya, maupun minimnya masyarakat yang mengakses pendidikan seksualitas. Termasuk minimnya pengetahuan bahwa praktik perkosaan berbeda jauh dengan praktik berhubungan seksual yang aman.

Saya adalah salah satu dari sekian banyak perempuan yang tidak mendapatkan pendidikan seksualitas dari orang tua dan sekolah saya. Saya bukan dari kalangan pesantren yang mengkaji kitab yang membicarakan tentang seksualitas (Qurotul Uyun dsb). Sehingga saya perlu mencari pengetahuan seksualitas sendiri. Alhasil saya pun mendapatkan pengetahuan yang sepotong-sepotong. Tumbuh bersama koneksi internet yang lancar, gadget yang canggih bukan merupakan jaminan saya akan mendapatkan pengetahuan ini dengan baik dan komprehensif.

Saya tumbuh di lingkungan yang masih mentabukan dan menganggap negatif pendidikan seksualitas. Sehingga saya juga tumbuh dengan banyak mitos tentang seksualitas seperti mitos darah haid, mitos kehamilan, mitos merawat bayi, hingga mitos dalam berhubungan seksual. Kepungan mitos dan tabu ini mencegah saya untuk mengenali diri saya sendiri, tubuh saya, hak saya, kesehatan saya, terhadap seksualitas. Juga memampatkan saya untuk mengetahui perkembangan ilmiah dari isu seksualitas.

Saat Kuliah Kerja Nyata (KKN) di sebuah pulau di Halmahera Selatan kami mengadakan penyuluhan kesehatan reproduksi di sebuah SMA di pulau tsb. Saat itu ada seorang dokter yang menerangkan tentang macam-macam penyakit menular seksual dan bagaimana penularannya. Ada banyak siswa yang antusias untuk bertanya. Di saat yang sama saya dengar bahwa praktik hubungan seksual di kalangan remaja seusia mereka di sana terhitung marak. Memang saya tidak tahu dampak lebih lanjut dari dari penyuluhan yang kami lakukan hanya sekali tsb ada atau tidak. Saya juga tidak yakin praktik hubungan seksual di sana berkurang. Tapi setidaknya sebagai pengetahuan tambahan, mereka mengetahui ada resiko yang harus ditanggung atas kegiatan seks yang mereka lakukan.

Di tahun berikutnya saya mengikuti kelas penyuluhan kesehatan reproduksi bersama PKBI DIY dan pesertanya kawan-kawan perempuan di organisasi saya. Pembahasannya tidak terbatas pada penyakit menular seksual saja. Lebih maju selangkah tentang pengenalan fungsi organ reproduksi seksual perempuan dan penyakit apa saja yang bisa menjangkitinya. Penyuluhan kali ini bahasannya lebih dekat dengan saya. Saat diskusi sharing pun semakin intens meski banyak yang malu-malu mendengarkan presentasi dari pembicara (padahal seumuran) dan malu-malu untuk bertanya. Malu-malu ini yang berbahaya jika kemudian menjadi alasan untuk tidak perlu mencari pengetahuan tentang seksualitas. Seolah mereka menganggap 'ah hal ini tidak mungkin terjadi pada saya' atau 'ah hal ini masih jauh terjadi pada saya'. Maka meski penyuluhan ini tidak bisa menghilangkan sikap malu-malunya mereka, setidaknya mereka telah mengakses pengetahuan seksualitas secara benar, terbuka dan dekat dengan mereka.

Hingga kini saya masih mengikuti kelas penyuluhan kesehatan reproduksi dan seksualitas. Saya juga menjual obat untuk kesehatan organ reproduksi perempuan, sehingga saya perlu mempelajari lebih lanjut seputar organ reproduksi perempuan dan bersentuhan langsung dengan pengalaman-pengalaman konsumen saya. Saya kini juga mempelajari tentang kesehatan organ reproduksi laki-laki lho!

Di umur ke 23 tahun ini saya baru paham bahwa 
pendidikan seksualitas itu melampaui batasan tubuh.

Dari pengetahuan yang paling dasar bahwa bukti sayang antara laki-laki dan perempuan adalah berhubungan seksual merupakan kesalahan berpikir terbesar. Di sini pentingnya pemahaman bahwa nafsu seksual dengan kasih sayang adalah berbeda jauh. Nafsu seksual adalah hal yang pasti dimiliki setiap orang dan mudah diwujudkan, tapi tidak demikian dengan kasih sayang. 

Hingga pada tahap pengetahuan tentang kesadaran mereka bahwa bayi yang mereka lahirkan dari hasil hubungan seksual secara bebas di luar maupun di dalam ikatan pernikahan adalah bayi mereka, bayi mereka adalah manusia yang mereka lahirkan dan tidak bisa begitu saja diserahkan pada panti asuhan, asuhan ibu, asuhan nenek, asuhan tetangga, asuhan baby sitter, dijual, atau jika dibesarkan sendiri malah ditelantarkan begitu saja. Bayi-bayi ini juga tidak bisa dimusnahkan begitu saja melalui aborsi atau penggunaan pil KB di luar aturan pakai. 

Sebagai mana dengan perilaku sehari-hari, perilaku seksual pun memiliki resiko. 
Perilaku seksualmu adalah resikomu.

Maka pendidikan seksualitas tidak hanya bicara tentang pengetahuan biologis, melainkan juga tentang pengetahuan agama, kultural hingga politis. Dari apa fungsi organ reproduksi, hingga untuk mengajarkan anak-anak kita tidak memperkosa dan tidak melakukan perilaku seksual yang merugikan orang lain. Dari kenapa berhubungan seksual itu enak, hingga bagaimana membesarkan anak hasil berhubungan seksual yang enak itu tadi. Dari menghapus mitos bahwa kemandulan hanya milik perempuan, hingga bagaimana mengatur kecepatan sperma bertemu ovarium untuk menghasilkan bayi perempuan. Dari tekanan psikologis paska melahirkan, hingga mengapa angka perceraian semakin tinggi. Dari apa manfaat hubungan seksual, hingga bagaimana mendapatkan kebahagiaan selain dari hubungan seksual. Dari bagaimana agama memandang praktik seksualitas, hingga bagaimana caranya memberikan pemahaman tentang seksualitas pada mereka yang 'sak karepmu' dengan agama.

Tapi banyak yang bilang, katanya seksualitas adalah hal wajar, sehingga tidak perlulah mengakses pengetahuan seksualitas ini-itu, "besok langsung praktik saja kan lebih jelas". Langsung praktik mbahmu! Dipikir cuma kamu yang melakukan hubungan seksual? Atau dipikir pendidikan seksual adalah mengajarkan cara berhubungan seksual tok? Atau dipikir efek hubungan seksual sebatas rasa nikmat? Yang intinya "pendidikan seksual adalah kesia-sian" atau "pendidikan seksual ini isu yang remeh mending bahas tentang korupsi".

Terserah sih kalau masih mau berpikir seperti itu. Jelasnya memang tidak cukup hanya melakukan penyuluhan kesehatan reproduksi saja pada satu golongan usia saja, pada satu tempat dan satu waktu saja. Pendidikan seksualitas ini merupakan upaya sustainable, berkelanjutan, harus melibatkan banyak pihak, harus ada transfer pengetahuan dari generasi ke generasi, harus bisa mendorong pemerintah juga untuk mengurangi angka-angka mengerikan di atas (bukan sekedar ngeblock situs porno), sehingga mampu merubah tatanan masyarakat untuk lebih berdaya. Karena fungsi dari pendidikan adalah memberdayakan dan memberikan kekuatan untuk berdaulat menuju kehidupan lebih sejahtera untuk semuanya (bukan untuk sebagian golongan saja). Dan apabila pengetahuan seksualitas yang disampaikan jika tidak diimbangi dengan dukungan dari negara dan masyarakat kaitannya dengan upaya pengentasan kemiskinan yang dilanggengkan negara maupun masyarakat tsb, maka ketimpangan akan terus berlanjut.

Susah to? Kamu gak mau to terlibat jauh dalam proses pendidikan ini karena ribet? Wong saya saja meski sudah terlibat tetap merasa kesulitan karena harus melampaui batasan tubuh!

--
Artikel terkait cek di sini

8 komentar:

  1. Indonesia memang agak telat kalau tentang sex-ed.
    Kalau di pesantren dulu, santri yang sudah di Aliyah di ajarkan kitab tentang reproduksi dgn cara agama.

    Wah selamat ya mbak.. Semoga pernikahannya nanti samawa.

    BalasHapus
    Balasan
    1. kenapa jadi mendoakan pernikahanku? hahaha. iya, bagusnya pesantren adalah ada pengetahuan seksualitas berdasar kitab.

      Hapus
  2. Fat, awaku ijik aktif ngeblog pora sih? Opo sibuk dodolan terus blogmu mati suri (diupdate nek eling wae)?

    BalasHapus
    Balasan
    1. aku wes males nulis je saiki za. hahaha. ky wes ra ndue inspirasi nggo nulis.

      Hapus
  3. bagus tulisannya, saya suka. Sayangnya saya bukan editor surat kabar.

    BalasHapus
    Balasan
    1. terima kasih, semoga bermanfaat yah :)

      Hapus
  4. Fat, Fat. Kok aku ngekek, ya. Hahaha. Berarti aku konsultasi reproduksi ning kowe isoh ki.

    BalasHapus