Mempertahankan yang Dicapai: Menikah dan Ramadhan


السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

dari page muslim's show


Baru beberapa tahun belakangan ini saya merasa sedih ketika harus membiarkan Ramadhan, sebagai sebuah kurun waktu tertentu, usai. Sebelumnya saya justru senang karena itu berarti akan ada baju baru, uang dari salam tempel, ayah yang pulang ke rumah, dan tidak ada tugas mencatat kultum saat tarawih yang dari tahun ke tahun itu-itu saja. Saya baru ngeh bahwa Ramadhan adalah sebuah pencapaian penting tak lama ini. Setelah merayakan Ramadhan dengan berbagai cara. 

Saya pikir, yang namanya pencapaian adalah sesuatu yang perlu dipertahankan. Demikian dengan Ramadhan.

Saat Ramadhan, berbuat baik (wallahu ‘alam bisshowab) akan mendapatkan pahala berlipat ganda hingga ratusan kali. Meski konsep dari pahala ini sangat abstrak sebagaimana konsep surga, setidaknya poin ‘berlipat ganda’ cukup masuk di akal. Bukankah kita senang mendapatkan 2 baju dengan hanya membayar harga 1 baju? Sehingga fokus berbuat baik secara vertikal dan horizontal sungguh menjadi lebih menyenangkan dari pada mencemoohi banyak hal. Demikian peran Ramadhan sangat besar untuk memenuhi pundi amalan saya yang tidak pernah beribadah ini.

Maka, pencapaian dalam bulan Ramadhan tahun ini pasti akan sangat berat untuk saya pertahankan di bulan lain. Sebab saya bisa mendapatkan 2 juz membaca Al-Qur’an dalam 2 minggu. Biasanya sebulan belum tentu 1 juz!

Saya pikir demikian dengan menikah. Sebuah konsep yang sangat abstrak bagi saya. Upaya untuk mewujudkan diri menjadi pribadi yang siap menyelesaikan perkara hidup sendiri dan memutuskan untuk membagi hidup dengan orang lain (seberapa romantis siapapun mendeskripsikan jodoh, bagi saya ia tetap orang lain), memasukkan keputusan dari orang tuanya, orang tua saya, dan keluarga kecil-besarnya, keluarga kecil-besar saya sebagai sebuah kesatuan, tentang geliat membesarkan anak, dll dll dll dll dll.

Bisa sampai pada titik pernikahan adalah sebuah capaian, bukan sekedar menjawab pertanyaan basa-basi rutin setiap bertemu saudara (selain melepaskan hasrat seksual secara aman). Selanjutnya, tentang bagaimana mempertahankan pernikahan itu. Padahal pernikahan bukanlah sebuah kurun waktu tertentu seperti Ramadhan. Ia ada hingga seumur hidupmu!

Hingga adzan magrib terdengar, saya semakin sedih saja. Padahal Ramadhan dan pernikahan lebih rumit dari tafsirannya.

صَلَّى اللّهُ عَلَى مُحَمَّد - صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّم

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sedikit Catatan KKN di Jikotamo, Pulau Obi

Drama India dan Imajinasi Tentang Ibu Mertua

Remaja Perempuan dan Organisasi Desa: Cerita dari RW 55 Krapyak