Sabtu, 14 Mei 2016

Hari Kartini untuk Diana, Siti dan Sari


السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Pada suatu hari saya berkenalan dengan Diana. Perempuan manis, berpenampilan biasa-biasa saja, berambut terikat, berusia 25-an tahun, hidup di pinggiran kota Jakarta. Ia adalah ibu rumah tangga di Indonesia pada umumnya. Kesehariannya tidak bekerja, mengurus rumah sendiri, menemani anak belajar, menunggui suami pulang kerja dan menggunakan daster di rumah kontrakan berukuran pas-pasan.

scene Diana menjemur pakaian

Lalu saya berkenalan dengan Siti. Perempuan yang tampilan dan usianya tidak jauh berbeda dengan Diana. Siti berambut lebih panjang sedikit dari Diana. Siti juga ibu rumah tangga dengan seorang anak laki-laki yang duduk di bangku SD. Bedanya Siti tinggal di Pesisir Pantai Selatan Jogja dan memikul beban ganda; bekerja di siang dan malam hari sembari mengurusi suami dan ibunya yang renta. Siti memperkenalkan kita pada kemiskinan di  pesisir pantai.

scene Siti berbicara dengan anak laki-lakinya

Saya juga berkenalan dengan Sari. Perempuan sebagai mana Diana dan Siti yang berpenampilan biasa saja. Seusia dengan Diana dan Siti dengan panjang rambut yang hampir sama juga. Hanya saja Sari belum menikah, bekerja di sebuah salon kelas bawah di pinggiran Jakarta, senang menonton film dari dvd bajakan, tinggal di kamar kos sempit bersama puluhan perempuan lain, sehari-hari memakan indomie, dan memiliki pacar yang tidak memiliki identitas apapun.

scene Sari memijat pelanggan di salon

Saya tidak menemukan smart phone mentereng, followers instagram ribuan, gaya hidup dari cafe satu ke lokasi wisata lain, jualan online MLM, berdebat tentang istri bekerja atau di rumah saja, posting foto anak atau selfie mesra di facebook, melakukan workout dan diet ala Dian Sastro, atau mengumpulkan massa untuk nyinyirin satu orang ke orang lain dari satu arisan ke pengajian lain, dalam diri Diana, Siti dan Sari. Sebagaimana gambaran perempuan usia 25-an tahun dan sudah menikah yang sejauh ini saya lihat di timeline.

Justru saya menemukan ciri perempuan Indonesia yang umum 
ada pada diri Diana, Siti dan Sari. 

Umum dalam artian mereka di luar dari gambaran perempuan ala sinetron Indonesiar: perusak rumah tangga orang lain atau tukang maksiat yang bertobat. Mereka bagian dari masyarakat kita yang menempati posisi tidak begitu diperhitungkan suaranya sejak dulu hingga kini (meski ada posisi afirmatif 30%). Sekaligus sasaran utama konsumerisme dunia ketiga, padahal di posisi lain menjadi tenaga kerja murah tanpa jaminan kesejahteraan di hari tua. Perempuan Indonesia menjadi kaum marjinal di negara yang mayoritas penduduknya adalah perempuan. Terhimpit oleh kemiskinan dan ketimpangan sosial yang tidak masuk akal karena permainan kuasa global dan kapital (tangan-tangan Tuhan salah kaprah). Mereka bertahan hidup di ambang batas dengan mengandalkan kekuatan diri sendiri; ketika dimadu suami, ketika suami meninggalkan hutang terlalu banyak, ketika hanya sekedar pelengkap suara di pemilihan umum pesta demokrasi negara. Seperti yang terjadi pada Diana, Siti dan Sari.

Sebagaimana imajinasi pada umumnya, saya menunggu-nunggu kapan keberuntungan datang pada mereka sebagaimana saya menunggu Kartini betul-betul lepas dari feodalisme Jawa yang mengalir dalam takdir hidupnya. Alih-alih menunggu, ketiga perempuan ini memilih untuk melawan.

Diana justru menantang diri sendiri menghadapi keluarga suami dan keluarganya yang menyalahkan dirinya atas upaya poligami suaminya yang jelas mencederai perjanjian pernikahan mereka. Termasuk mendatangi calon madu suaminya dan menghadapi pertanyaan anaknya tentang keinginannya bercerai. 

Siti menantang diri sendiri menghadapi debt collector dan kerasnya kehidupan malam sebagai penyanyi karaoke esek-esek di daerah prostitusi dan orang tua tunggal untuk anaknya. Perihal ketidakpastian kapan akan keluar dari kemiskinan, kejaran aparat saat razia, dan suaminya yang tak kunjung bicara mengalahkan stigma terhadap dirinya sebagai perempuan malam. 

Sari menantang diri sendiri menghadapi kejujuran bahwa ia mengambil sesuatu dari rumah tahanan pesakitan kelas kakap, lalu sebagai buruh kehilangan pekerjaan di salon kelas atas pun pacarnya yang diculik untuk menutupi kebobrokan praktek keadilan di negara ini. Perihal kebahagiaan mungkin bisa dicari di tengah tumpukan dvd bajakan, toh di negaranya rakyat cuma bulan-bulanan penguasa saat pemilihan umum ini-itu.

Citra perempuan seperti Diana, Siti dan Sari ini yang sejak dulu saya cari dalam media massa di Indonesia. Citra yang tidak muluk-muluk dan tidak penuh polesan. Citra perempuan dunia ketiga. Citra perempuan muda yang tangguh dan tidak dibuat-buat. Citra perempuan dan kemiskinan dalam kesehariannya sebagai warga negara Indonesia. Citra yang disajikan dengan baik melalui gambar-gambar sederhana dengan setting dan karakter yang sangat kuat dan dekat dengan keseharian saya. Citra yang tidak bisa saya dapatkan hanya duduk-duduk saja seolah tidak pernah terjadi apapun dengan perempuan di belahan wilayah lainnya di Indonesia.

Maka, (meski terlambat) saya ucapkan Selamat Hari Kartini 
dan Selamat Hari Perempuan Internasional 
pada Diana, Siti dan Sari!

--

Temui Diana di Sendiri Diana Sendiri

Temui Siti di SITI

Temui Sari di A Copy of My Mind

صَلَّى اللّهُ عَلَى مُحَمَّد - صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّم

0 komentar:

Posting Komentar