Membentang Jarak antara Kita dan Difabilitas


السلام عليكم ورحمة الله وبركاته


gambar dari google

Suatu hari saya iseng ikut yang namanya Sekolah Lintas Iman. sejenis short course yang diadakan oleh Interfidei Jogja untuk kawan-kawan UKDW, UIN dan SADHAR. tapi saya nyumpel di sana karena saat itu temanya tentang sesuatu yang bagi saya sangat jauh: difabilitas.

Sesekali memang saya pernah melihat bapak-bapak tuna netra berjualan keset keliling kampus saya, atau kawan satu fakultas yang tuna daksa se-sekali. iya, se-sekali. hampir gak lebih dari satu kali.

Dari sana saya pikir, ada jarak yang selama ini dibangun di antara saya dan kawan-kawan dengan difabilitas. entah siapa yang membangun. barang kali dibangun dari hal sederhana seperti: tidak pernah masuk di acara-acara tv indonesia yang penuh pemain sinetron keturunan luar negeri. bisa jadi stasiun televisi di negara kita memang tidak inklusif selama ini. padahal televisi adalah media yang paling banyak diakses oleh jutaan penduduk indonesia. 

Melalui pertemuan SLI6 ini, saya mempelajari bahwa jarak ini muncul, berawal dari stereotyping untuk menyembunyikan difabel dari khalayak ramai. hal ini biasa dilakukan oleh orang terdahulu; karena menganggap orang dengan difabilitas hanya membuat malu dan tidak bisa melakukan apapun

Jarak ini semakin luas dengan kebijakan pemerintah yang kurang menjangkau difabel, contohnya adalah pembangunan fasilitas umum yang tidak ramah difabel. banyak terotoar di Jogja yang dijadikan tempat parkir dan tidak memiliki guiding block, sehingga kawan-kawan difabel tidak dapat lewat dengan aman. pun minimnya kesempatan kerja untuk difabel.

Saya bertemu dan belajar dari mereka yang berusaha mendekatkan jarak antara difabel dan kita di pertemuan SLI6. mereka adalah orang-orang yang memang concern terhadap advokasi kasus-kasus perkosaan dan pencabulan terhadap difabel, memberikan keterampilan bagi difabel untuk membuat sesuatu (bukan sekedar pijat bagi tuna netra), hingga mendidik dengan setulus hati anak-anak difabel di SLB tentang berkah hidup yang mereka miliki.


Untuk melanjutkan semangat memangkas jarak ini saya bersama kawan-kawan KOHATI Cabang Bulaksumur bekerja sama dengan HMI Komisariat Teknik UGM melakukan screening film berjudul Pencari Keadilan yang diproduksi oleh Sasana Integrasi dan Advokasi Difabel (SIGAB) difasilitasi oleh Etnoreflika. film pendek berdurasi 30 menit ini dibuat langsung oleh kawan-kawan difabel dengan para pemain difabel pula. film yang dapat ditonton oleh tuna rungu dan tuna netra ini bercerita tentang pelecehan seksual yang dilakukan oleh seorang guru laki-laki di SLB kepada seorang murid perempuannya. kasus ini terjadi di Jogja dan diadvokasi oleh SIGAB.

Pelajaran penting bagi kawan-kawan HMI Cabang Bulaksumur yang menyaksikan film ini adalah bahwa kawan-kawan difabel masih rentan perlindungan hukum karena aparat penegak hukum yang cenderung melakukan diskriminasi terhadap korban yang difabel. selain itu kasus dengan angka kejadian tertinggi, yakni perkosaan terhadap difabel, masih marak terjadi dan dilakukan oleh orang terdekat. sehingga, melalui pemutaran film ini diharapkan HMI mampu menjadi himpunan mahasiswa yang inklusif, ramah difabel dan mampu memperjuangkan hak-hak difabel yang selama ini terabaikan.

karena jarak harus dipangkas.
dan diskriminasi jangan diberi tempat.

صَلَّى اللّهُ عَلَى مُحَمَّد - صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّم

Komentar

  1. masyaAllah, baru kali ini baca aktivis sngat peduli difabel ;)

    BalasHapus
    Balasan
    1. terima kasih, mari teruskan kepedulian ini :)

      Hapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sedikit Catatan KKN di Jikotamo, Pulau Obi

Drama India dan Imajinasi Tentang Ibu Mertua

Remaja Perempuan dan Organisasi Desa: Cerita dari RW 55 Krapyak