Keberagaman yang Tidak Beragam


السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Sebenernya saya terserang sindrom malas menulis panjang, termasuk skripsi alasan doang sih sebenernya. Padahal katanya, menulis bagus buat belajar fokus. Dimana saya sedang terapi untuk fokus. Saya memang gemar menjauhi hal-hal yang baik #huft.

Mmm...
Begini...

Ada cerita menarik ketika saya magang di pusat studi religi dan budaya di kampus saya. Bukan tentang proses magangnya yang menarik dimana saya kabur dari tanggung jawab dan sampai ditegur dosen. Uhuk. Tapi lebih ke apa yang saya dapatkan ketika ditugasi bikin artikel tentang kekerasan atas nama agama di Jawa Barat. 

Tahukah kalian bahwa Provinsi Jawa Barat memiliki index 
kasus kekerasan atas nama agama yang tinggi?! (sumber)

Saya pun syok. Bertanya pada diri sendiri, benarkah Bhineka Tinggal Ika is a bullshit? Kasus yang terjadi antara lain penyegelan gereja, pengusiran pengikut Ahmadiyah, penggusuran pengikut Syiah, hingga diskriminasi terhadap penghayat Sunda Wiwitan. Dimana kasus ini dilakukan oleh kelompok Mayoritas Muslim, salah satunya FPI.

Mereka tidak boleh beribadah bahkan mempercayai kepercayaan masing-masing.

gambar dari google
Dari diskriminasi, dilucuti kepemilikan atas segala yang mereka punya hingga mengalami kekerasan menjadi satu dengan apa yang diyakini 'kebenaran haqiqi' atas nama Tuhan. Padahal, Tuhan katanya Maha Adil (meski kayaknya ada term and conditions macam waktu daftar di Facebook).

Pada Februari 2011 terjadi penyerangan terhadap jamaah Ahmadiyah di Cikeusik, Pandeglang, Jawa Barat (1
Lalu berdasarakan hasil monitoring Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Bandung, bahwa selama bulan Januari – Mei 2013 terjadi kekerasan Atas Nama Agama di Jawa Barat. Kekerasan tersebut terjadi pada enam gereja, serta delapan komplek dan masjid Jamaah Ahmadiyah. Dari ke-15 kekerasan tersebut, satu diantaranya adalah kekerasan yang terjadi di Kampung Babakan Sindang dan Kampung Wanasigra, Kabupaten Tasikmalaya. Sebanyak kurang lebih 150 orang menyerang warga Ahmadiyah di kedua kampung tersebut pada Minggu dini hari, 05/05/2013, dari pukul 01.00 – 03.15 WIB (2)
Selain itu juga tercatat kekerasan terhadap Jamaah ahmadiyah di Manislor Kuningan Jawa Barat tahun 2007 dan kekerasan terhadap Jemaat Gereja di Bandung Jawa barat tahun 1995, 1999, 2005 dan 2007 (3). 
Penyerangan juga terjadi berikut penurunan spanduk di area perkampungan Majelis Az-Zikra asuhan K.H. Muhammad Arifin Ilham di Sentul Bogor, Jawa Barat pada 11 Februari 2015 lalu (4)
Saya bukan orang yang gemar mencampuri aqidah orang lain. Saya memang orang yang kerap dicemooh tidak pernah membela agama saya dengan mendukung upaya-upaya mengerikan di atas. Sejak kecil saya diajarkan untuk menghargai umat lain beribadah (ini ada di pelajaran PPKN SD). Meski ternyata konteks 'umat lain' makin ke sini makin luas. Pun ketika sudah besar meyakini bahwa Tuhan hanya memberikan hidayah pada orang yang dipilihNya.


gambar dari google

Kalau menurut teori dari Oommen yang aku pakai buat artikel, para sosiolog sejak lama berbicara tentang agama sebagai sumber kekerasan. T.K. Oommen berkata bahwa kekerasan agama bukan hanya disebabkan oleh faktor-faktor eksternal seperti ekonomi, politik, dan psikologi, tapi juga karena agama sendiri menyediakan rujukan yang cukup banyak untuk perilaku semacam itu. Oommen melakukan penelitiannya terhadap semua agama besar dunia, termasuk Islam dan Hindu (sumber).

Sedangkan menurut Ganzevort yang menggunakan pandangan Mimetic Rene Girard, agama digunakan untuk memuluskan tujuan dari pelaku kekerasan dengan alasan mereka telah mendapat persetujuan Tuhan dan Rasul Tuhan. Keabsolutan kebenaran agama dan sabda Tuhan diwujudkan melalui sesuatu yang absolute juga dan untuk menuai ketakutan sebagai awal kepatuhan yang kasat mata. Kekerasan kemudian menjadi bagian dari ritual tambahan. 

Pandangan menarik dari dua teori tentang kekerasan berlandaskan agama ini menurut saya dapat menjadi refleksi bersama. Bahwa ada banyak sebab yang melatarbelakangi penggunaan agama sebagai pelegalan kekerasan terhadap kelompok lain. Saya pikir lebih dari sedih jika dapat betul-betul merasakan bagaimana dikucilkan. Sehingga saya cuma berharap dikurang-kurangin deh itu makan micinnya. 

Demikian postingan pertama di tahun 2016 ini. 

"Semoga INDONESIA semakin 
damai & inklusif."



NB:
Terima kasih buat mas Marthen dan mas Budi atas bimbingannya selama saya magang!
صَلَّى اللّهُ عَلَى مُحَمَّد - صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّم

Komentar

  1. Imo, menurut ane daerah Jabar itu keberagamaannya itu nampaknya sangat memegang teguh ajaran mbak, dan mass orang islamnya memang sangat berbeda dengan daerah jawa lainnya.
    Adapun untuk sumber mula kekerasan itu ya awalnya di gaungkan oleh para pemimpin pemimpinnya, para pengikut sama jamaah biasanya manut manut aja, istilahnya sami'na wa ata'na (diam atau patuhin)

    betewe, kalau malas bikin skripsi,, coba cicil kayak ane kemaren pas ngerjain. satu hari satu buku sumber buat bahan. congrats.

    BalasHapus
  2. thanks buat infonya dan sharingnya kak.. memang kita selalu harapkan Indonesia agar tentram dan damai selalu. ooo iya kak saya juga ada info kalau ingin tahu cara membuat website yukk disini aja. terimakasih.

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sedikit Catatan KKN di Jikotamo, Pulau Obi

Drama India dan Imajinasi Tentang Ibu Mertua

Remaja Perempuan dan Organisasi Desa: Cerita dari RW 55 Krapyak