Remaja Perempuan dan Organisasi Desa: Cerita dari RW 55 Krapyak



Untuk Mbak Fitri


Tepat satu tahun (bulan September-Oktober 2014) lalu saya berkenalan dengan seorang gadis yang kemudian saya putuskan untuk saya kagumi. Ia adalah Dewi (22 tahun). Dewi tinggal di RT 05/RW 55, Desa Wedomartani, Kecamatan Ngemplak, Kabupaten Sleman, Jogja. Dewi seusia dengan saya. Setiap sore, Dewi senang ngobrol dengan ibu-ibu ini sembari ikut menggendong anak-anak mereka yang masih kecil. Dewi juga tidak pernah absen mengikuti pengajian yasinan rutin RW 55. Jika kalian main ke RW 55 ini, tidak ada ibu-ibu yang tidak kenal dengan Dewi. Lepas lulus SMA, Dewi sehari-hari bekerja membantu usaha mebel Masnya. Dewi memilih untuk menemani ibunya di rumah. Di sela-sela kegiatannya, ia membantu mengajari anak-anak di Krapyak untuk mengaji di TPQ musola RT 04.

Lala bergaya dan Dewi sedang ngobrol ketika Yasinan


Saya juga berkenalan dengan Lala (18 tahun). Lala kini semester pertama kuliah kebidanan di Jogja. Ketika itu Lala sedang aktif-aktifnya berkegiatan di Hisbul Watan SMA Muhammadiyah 1 Jogja dan merupakan atlet Tapak Suci sabuk hitam. Di HW ia menjalin hubungan akrab dengan ular, mulai dari piton hingga ular tikus. Lala adalah remaja yang sedang senang-senangnya berkegiatan ekstrakulikuler di sekolah hingga tidak jarang membawa piala untuk dipajang di kamarnya sendiri. Meski kesibukan ekstrakulikuler dan les privat menyita waktunya bermain, Lala masih menyempatkan diri untuk mengikuti kumpulan pemuda di kampungnya, yakni GAMA55. Selain itu ia juga bermain dengan teman-teman di kampungnya. Serta membantu pelaksanaan kegiatan yang diselenggarakan di kampung. Lala juga aktif memberikan masukan ketika musyawarah kumpulan.

Laras (baju hijau), Ayik (jaket biru), Cici (baju hitam), 
Ozi (laki-laki baju hitam) sedang mengolah data 
Sekolah Remaja di rumah Cici.

Ada juga Laras (22 tahun) yang seusia dengan saya. Laras kini kuliah semester akhir di Fakultas Olah Raga UNY. Laras sehari-hari mencoba mandiri mencari penghasilan sendiri dengan mengajarkan les privat renang kepada anak-anak. Di tengah jadwal yang padat, karena selalu ada yang minta diajari berenang, Laras masih menyempatkan diri untuk tetap aktif di kumpulan pemuda GAMA55. Laras juga mengikuti kelompok yasinan setiap malam Jum’at bersama Dewi. Laras dipercaya untuk mengorganisir kelompok senam ibu-ibu oleh warga atau sesuatu yang berkaitan dengan olah raga. Jika kamu bertemu Laras, ia adalah gadis yang ceria dan tubuhnya fit sekali.

Beres-beres paska pengajian bulanan di Musola RT 05

Masih ada lagi Cici (25 tahun). Di tengah kesibukan menyelesaikan kuliah, Cici masih berpartisipasi aktif di kumpulan pemuda GAMA55. Kini Cici sudah lulus kuliah. Selama sekretariat GAMA55 dalam proses pindah, pembayaran rekening listrik oleh warga bertempat di rumah Cici. Cici sempat menjadi kandidat calon ketua GAMA55 tahun 2014. Cici kini berkegiatan di Yayasan Kampung Halaman. Cici sempat berproses dalam Sekolah Remaja tahun 2014 silam bersama kawan-kawan GAMA55 untuk melakukan survey remaja.

Dan ada Ayik (25 tahun) yang selalu menemani saya ketika saya mengenal dari awal lingkungan RW 55. Ayik lulusan sekolah tinggi ilmu ekonomi yang masih mencari pekerjaan. Kesehariannya Ayik kerap terlihat bersama Dewi dan Cici. Ayik yang ceria ini mengenal hampir keseluruhan warga Krapyak. Remaja mana yang masih mengenal orang-orang di lingkungan sekitarnya? Sehingga ketika saya butuh menemui beberapa warga sekaligus translate bahasa krama inggil, saya sangat terbantu oleh Ayik. 

ketika persiapan pengajian Ramadhan di rumah Pak RW 55 tahun lalu


Dewi, Lala, Cici dan Laras hanya sebagian dari remaja perempuan 
yang aktif bergerak untuk komunitasnya, 
yakni lingkungan RW 55 Krapyak.

Oya, buat yang bingung, apa sih GAMA55 itu? GAMA55 merupakan organisasi kepemudaan RW 55 Krapyak yang berdiri sejak 23 Maret 1984. Selain melakukan kegiatan kumpulan seperti perayaan hari Sumpah Pemuda, anggota kumpulan juga terlibat langsung berkegiatan bersama warga. Setiap tanggal 17-19 anggota kumpulan ganti jaga shift untuk menerima pembayaran rekening listrik dari warga. Anggota laki-laki, seperti Siju, Demin, Badrun dan kawan-kawan lain bergantian melakukan ronda malam bersama bapak-bapak.  Saat perayaan 17 Agustus kemarin, bersama warga melakukan pementasan tentang perjuangan kemerdekaan. 

foto kawan-kawan RW 55 saat pentas 17 Agustus lalu

GAMA55 berusaha mengumpulkan para pemuda di wilayah RW 55 tanpa memandang status sosial maupun aktif atau tidak dalam kumpulan setiap malam minggu Legi. GAMA55 juga mengajak pemuda untuk berkegiatan bersama warga adalah usaha terus menerus yang berusaha dipertahankan para pemuda Krapyak untuk menjaga silahturahim antar warga alias srawung. Iya, srawung sebagai hal yang kerap dianggap remeh sebagai ‘hal yang terlalu sederhana dan membosankan’. Padahal srawung inilah yang justru menghidupkan Krapyak sebagai kampung di rural-urban area. 

pengajian besar di RW 55

Setelah mengenal kawan-kawan remaja perempuan dari Krapyak ini, saya meralat pemikiran saya mengenai culunnya berproses di lingkungan terdekat. Sudah bukan hal aneh, seperti yang kita ketahui bersama bahwa di berbagai desa di negara kita, remaja berbondong-bondong pergi ke kota untuk mencari pekerjaan selepas lulus SMP atau SMA. Hal ini menjadikan desa kosong dari kehadiran anak muda. Sehingga desa menjadi jauh dari pembangunan yang dinamis karena ketiadaan keterlibatan anak muda desa. Maka kita sebagai remaja harus mampu mengubah wajah desa kita dahulu.

kawan GAMA55 sedang berkumpul membahas agenda pengajian

Kerja keras membangun lingkungan di sekitar kita bukanlah suatu tren yang ketinggalan jaman. Kerja keras membangun lingkungan di sekitar kita bukanlah hal ndeso. Kerja keras membangun lingkungan di sekitar kita adalah keharusan. Kerja keras ini yang ditunjukkan oleh Dewi, Lala, Cici dan Laras serta kawan-kawan pemuda GAMA55 lainnya.

Dewi, Lala, Cici dan Laras adalah remaja perempuan yang menikmati berproses di lingkungan terdekatnya, di saat remaja lain memilih untuk saling hasut dan meremehkan satu sama lain. Dewi dan kawan-kawan meninggalkan pesan yang berbekas bagi saya, bahwa yang bisa berorganisasi bukan cuma orang kota, bukan cuma laki-laki, dan remaja perempuan bukan cuma disibukkan oleh kegiatan domestik saja.  Cici dan Dewi misalnya, mereka berdua berinisiatif untuk menghidupkan kembali Taman Baca Qur’an (TPQ) di musola dekat rumah. 

tim dari Kampung Halaman sedang mengambil gambar 
Dewi, Cici dan Ayik yang sedang membersihkan 
peralatan memasak ketika Idul Adha

Terutama dari Dewi, saya belajar soal skill khusus ketika berkomunikasi dengan ibu-ibu, terutama soal ketekunan. Sehingga saya gak kaget ketika membutuhkan dihubungkan dengan ibu-ibu, Dewi langsung sigap membantu. Saya percaya, Dewi adalah menantu idaman ibu mertua hehehe.


Jika ada lebih banyak remaja perempuan yang optimis, 
bukankah perubahan ke arah yang lebih baik menjadi niscaya? 


 kumpul bersama remaja perempuan yang inspiratif,
iya remaja perempuan RW 55 Krapyak


Bagaimana dengan remaja perempuan di lingkunganmu?

Komentar

  1. saya pas ospek dulu baru tau loh yang namanya ada organisasi yang namanya Karang Taruna. Sayangnya di perkotaan gak ada hal yang seperti ini. Otomatis anak-anak mudanya kebanyakan nongkrong gak jelas dan kontra produktif.
    Seharusnya Jokowi menggalangkan program karang taruna, bukan bela negara ya,.

    BalasHapus
  2. Blogging is the new poetry. I find it wonderful and amazing in many ways.

    BalasHapus
  3. I am extremely impressed along with your writing abilities, Thanks for this great share.

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sedikit Catatan KKN di Jikotamo, Pulau Obi

Drama India dan Imajinasi Tentang Ibu Mertua