Sambalnya Satu Bu, Sambal Tomat Ya!




Suatu hari saya bertemu kawan lama. Dia dan saya mengorbol soal banyak hal. Kemudian kami sampai di satu kalimat, Sebenarnya untuk apa kita memperjuangkan orang-orang tertindas ini?”

Kalimat yang sama juga ditanyakan oleh kawan baru-baru ini, “Kenapa pakai kata ‘berjuang’ fat? Emangnya apa yang diperjuangin? Kenapa harus berjuang?”

“Kenapa harus mengawal Pemerintah dan memihak petani fat soal pembangunan bandara di Kulonprogo? Bukannya bagus Jogja jadi punya bandara bagus?”

Gimana ya caranya mengedukasi warga ini supaya ada transfer pengetahuan ke generasi yang selanjutnya?”


Atau,

“Gimana cara yang efektif menarik perhatian massa untuk aksi? Supaya kita tidak sendiri. ”

Ketika saya mendapat pertanyaan seperti ini, saya sadar bahwa pertanyaan ini tidak untuk dijawab dengan omongan saja. Melainkan dengan sepenuh hati realisasi kebersihan nurani melalui tindakan.

Kelen know la bahwasannya kerjaan ai hanya tidur dan stalking akun mantan aja. So far yang saya tahu soal aksi cuma bikin macet jalan dan banyak dinyinyirin orang. Selebihnya saya tiduran di kamar yang nyaman (teteuuuup).

Tapi ternyata ketika para pelaku aksi kemudian cerita kepada saya soal tujuan dari aksi yang mereka lakukan, kok rasanya saya merasa bodoh ya sudah ikutan sebal ketika jalanan mereka bikin macet? Kok rasanya saya merasa useless hobi stalking mantan ketika ibu-ibu melakukan aksi Kamisan di depan gedung DPR?

Soal-soal seperti ini saya memang awam sekali. Saya memang bukan seorang dengan pemikiran kritis atau sudah banyak berbuat untuk menyempitkan jurang kesenjangan sosial di negeri ini atau dunia. Barangkali demikian juga dengan kawan-kawan yang membaca posting ini.

Pilihan untuk aksi atau diam saja, saya pikir seperti 
memesan sambal bawang dan sambal tomat. 

Sambal bawang untuk mereka yang memilih berjuang dengan cara aksi turun ke jalan. Baik melalui demonstrasi maupun advokasi langsung ke lokasi konflik. Cabainya begitu terasa, pedas dan terlalu mengigit. Sederhana tapi rasanya rumit.

Sambal tomat untuk mereka yang memilih diam saja atau sesekali merutuki jalanan macet. Cabainya tidak begitu terasa karena sudah terlalu banyak campuran, ah yang penting masih sambal. Kan ada banyak cara untuk membangun negara dan bumi ini jadi lebih baik.


Lagi-lagi ini soal selera dan kesempatan. Seleranya bersuara atau tetap diam. Karena bagi saya nurani tidak bisa dibohongi oleh kekuatan blundering media sekarang. Meski nyatanya saya masih lebih senang dengan sambal tomat , saya pikir saya tetap harus bergerak meski pergerakan saya sangat kecil


Atau sebenarnya kita tidak sedang membicarakan sambel 
karena soal kemanusiaan tidak seremeh ini?



video klip FSTVLST - Orang-orang di Kerumunan

Komentar

  1. udah lamaaaa banget gak kesini...
    gimana kabarnya mbak,,,

    kalau saya memilih sambil aseli sajah ya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya udah lama juga gak main ke tempat mas qori hahaha
      kabar baik mas!
      mas gimana?

      sambal asli tu yang dari cabe apa pepaya? :p

      Hapus
  2. Amazing blog and very interesting stuff you got here! I definitely learned a lot from reading through some of your earlier posts as well and decided to drop a comment on this one!

    BalasHapus
  3. Well with your permission let me to grab your feed to keep updated with forthcoming post. Thanks a million and please continue the rewarding work.

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sedikit Catatan KKN di Jikotamo, Pulau Obi

Drama India dan Imajinasi Tentang Ibu Mertua

Remaja Perempuan dan Organisasi Desa: Cerita dari RW 55 Krapyak