The Perks of Being A Wallflower dan JUNO: Siapa Remaja? (Review)


السلام عليكم ورحمة الله وبركاته


(meski postingan ini tak mengandung unsur kejeniusan, 
aku memaksakan diri untuk tidak tahu malu)



intro.

pertama JUNO.
film pemenang naskah terbaik Oscar 2007 ini mengisi kekosongan masa remajaku.

kedua The Perks of Being A Wallflower.
film pemenang adaptasi novel terbaik ACCA 2012 ini mengisi kekosongan jiwaku paska remaja.





dua film ini akan aku bahas dengan satu tema,
seperti ketika aku bahas Her & Divortiare.


JUNO & The Perks Of Being A Wallflower
kedua film ini memiliki kesamaan yakni:

pertama:
tokohnya adalah remaja

kedua:
isu yang diangkat lekat dengan remaja

ketiga:
isinya adalah mimpi buruk para orang tua tentang anaknya yang remaja


bukankah orang tua selalu takut ketika anaknya beranjak dewasa? takut karena kediktatoran mereka mulai dibantah. pola asuh mereka mulai dikritik. takut karena anaknya yang remaja telah mampu bersuara sendiri.

Juno, 
remaja kelas 2 SMK ini bersuara 
melalui pilihannya untuk tidak mengaborsi kehamilannya.

Charlie, 
remaja kelas 1 SMA ini bersuara 
melalui tulisan dan membaca, selain dengan diam.

Juno & Charlie adalah pembelajaran, dan kedua film ini hanya ruang kelas dengan mata kuliah 3 SKS mengenai siapa sih remaja itu? mata kuliah yang kebanyakan kita kira dengan mendapatkan nilai A yakni jadi remaja baik-baik adalah hasil terbaik.



JUNO
berawal dari rasa penasarannya, ia mencoba pengalaman pertamanya penetrasi dengan Bleeker. lelaki teman sekelasnya yang culun dan tidak tampan. percobaan pertama yang mengesankan dan menyenangkan. hingga kemudian ia sadar bahwa ia telah terlambat haid. ia membeli testpack di toko kelontong, "barangkali sperma pacarmu memang sperma mutan. terima saja tanda merah suci itu!" kata penjualnya.


TPOBW
Charlie adalah remaja dengan mimpi buruk berlipat ganda. ia baru masuk sekolah. ia tidak memiliki satu pun teman. teman SMP-nya tak ingin mengenalnya. ia pendiam. ia tidak tampan. ia dibully di kelas karena pintar. mimpi buruknya ditambah dengan siluet Bibi Helen, bibinya, yang terus muncul. pertemuan dengan Sam dan Patrick, seolah mengajak Charlie bangun tidur. hubungan pertemanan, hobi baru, pesta, ganja, narkoba, minuman beralkohol, ciuman, pacaran, hubungan seksual dan rasa jatuh cinta.

adegan pembuka film yang mengerikan.
remaja seperti apa yang bisa bertahan dengan hidup seperti itu?

nyatanya ada.



kedua film yang diproduseri oleh Liane Halfon, John Malkovich dan Russel Smith ini mencoba menangkap isu seputar remaja melalui kedua film ini. bagaimana remaja di negara Barat mencoba untuk melanjutkan hidup mereka?

JUNO 
Juno awalnya berpikir untuk aborsi. ia bahkan mendatangi tempat aborsi sendirian. hingga ia berubah pikihan dan berpikir akan melahirkan anaknya saja. ia bahkan mencari orang tua untuk mengadopsi bayinya. ketika ia bercerita kepada karibnya yang juga remaja pelaku seks aktif, karibnya berkata, "apa kau gila membiarkan satu sekolah tahu bahwa kau berkeliaran kemana-mana dengan perut dan payudara yang membesar?"

tatap mata warga sekolah termasuk petugas TU ketika melihat Juno dengan perut buncit digambarkan dengan baik di film ini. seolah kehamilan di usia muda adalah abnormal.

masalah semakin banyak yang muncul ketika Juno tetap memutuskan melahirkan anaknya. ia harus jujur berkata di depan orang tuanya ia hamil oleh Bleeker. ia harus mencari orang tua asuh bagi bayinya sendiri, yang kemudian hampir gagal dan membuatnya depresi. ia menjadi tidak bisa bermain seperti remaja seusianya yang lain. dan bahkan Bleeker pun menjauh dari jangkauannya.

tapi setidaknya Juno jujur dengan kemampuan dirinya ketika berkata,

"aku masih kelas 2 SMK dan aku belum siap menjadi ibu."



TPOBW
Charlie mencoba untuk terlibat dalam dunia remaja mumpung pintu yang selama ini baginya tertutup, sedang terbuka lebar dan mempersilahkannya. ia yang selama liburan musim panas hanya berinteraksi dengan orang tuanya, kini dapat berinteraksi dengan remaja seusianya. 

Sam, adalah gadis yang membuatnya jatuh cinta karena keberaniannya. tapi pertama jatuh cinta, justru bertepuk sebelah tangan. Patrick, sangat baik padanya. pada akhirnya ialah yang harus menolong Patrick karena pilihan seksual sahabatnya sebagai gay. kakak perempuannya mengalami kekerasan dalam pacaran tetapi kakaknya melarang ia memberitahukan ke kedua orang tuanya. guru kelas bahasa yang menyelamatkan hidupnya melalui membaca harus pindah ke kota lain. Mary Elizabeth pacarnya yang tidak ia cintai dan kehidupan romansa yang tidak diharapkan.

semuanya puzzle yang berantakan. puzzle yang harus ia selesaikan sendirian.

tapi setidaknya Charlie jujur dengan masa lalunya, bahwa Bibi Helen telah melakukan tindakan fedofilia padanya ketika ia masih kecil.

"aku tidak berusaha untuk mengatakannya 
karena aku takut bahwa orang tak akan mampu menerimaku apa adanya."



remaja dianggap memberontak karena mereka berusaha untuk menyelesaikan masalahnya sendiri. mereka merasa telah mampu menyelesaikan masalahnya sendiri. demikian dengan Charlie dan Juno.

JUNO dan The Perks of Being A Wallflower bukan sekedar cerita sampah dari kehidupan sampah dari remaja di negara Barat. Author mereka, Stepen Chbosky (TPOBW) dan Diablo Cody (JUNO) melalui narasi dan visualisasi menggunakan film sebagai media hanya ingin menunjukkan sepotong cerita dari sudut pandang seorang remaja perempuan dan laki-laki. sepotong cerita yang ternyata memiliki kekuatan kuat untuk memotong sikap masa bodoh terhadap apa yang kita anggap kebodohan remaja.

  
ending?
Bleeker tidak lari atas kehamilan Juno.
Sam dan Patrick tidak lari atas masa lalu Charlie.

pada akhirnya remaja memang membutuhkan dorongan dan kepercayaan
dari orang-orang di sekitarnya, baik itu teman maupun orang tua agar
mereka lebih kuat dan percaya pada kemampuan yang mereka miliki.

bukan ending yang bahagia memang, tapi setidaknya melegakanku sebagai penonton. okey, akhirnya jadi kepanjangan postingannya. sebenarnya kedua film tahun 2007 (JUNO) dan tahun 2012 (The Perks of Being A Wallflower) aku bahas karena cuma ini yang baru aku tonton. hahahaha. keparat emang lagakku sok review. tapi kedua film ini tidak akan mengecewakan kalian. setidaknya bagiku, kedua film ini refleksi bagi diri sendiri yang masa remajanya juga suram.



selamat hari remaja internasional!
selamat merayakan masa remaja yang akan datang 
lalu menghilang!

صَلَّى اللّهُ عَلَى مُحَمَّد - صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّم

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sedikit Catatan KKN di Jikotamo, Pulau Obi

Drama India dan Imajinasi Tentang Ibu Mertua

Remaja Perempuan dan Organisasi Desa: Cerita dari RW 55 Krapyak