3 Remaja Difabel & Angkringan Tuli Madre


Mumpung saya masih terhitung remaja (uhuk), saya mau ikutan #OpiniRemaja #KitaSensitif buat Hari Remaja Internasional yang diselenggarakan oleh Yayasan Kampung Halaman hehehe.

Begini, sekitar bulan Maret saya mencari-cari sebuah angkringan bernama Madre. Angkringan ini berhasil saya temukan di bagian pojok kawasan Taman Kuliner Pringwulung. Angkringan ini terdiri dari 2 tingkat, di bawah ada kursi-kursi di ruang terbuka dan di lantai dua adalah lesehan. Ada tulisan “Angkringan Tuli” dan spanduk berisi abjad A hingga Z dengan bahasa isyarat di depan angkringan. Ada pula spanduk bertuliskan “50% pekerja di Angkringan Madre adalah tuli” di lantai bawah.

(baca tulisan lain tentang Madre di sini)

Wajah cerah seorang perempuan seusia saya (kemudian saya kenal sebagai Okty, sebagai interpreter) menyambut saya, “Selamat datang di angkringan inklusi pertama di Jogja!” menggunakan bahasa isyarat dan pengucapan.

Spanduk di atas gerobak angkringan Madre

Pada kunjungan selanjutnya saya diberi kesempatan untuk mengenal beberapa  pegawai di Madre melalu teman saya, Mark dari UKDW. Pegawai di Madre adalah remaja usia 20 hingga 25 tahun. Ada 10 pegawai yang bergantian jaga shift selama seminggu, dari pukul 5 sore hingga 12 malam (jam buka Madre). Keseluruhan pegawai ini adalah remaja tuli total dan separuh tuli. Ada yang bisa bahasa oral ada yang hanya bisa bahasa isyarat. Lalu saya berkenalan dengan Lia, Rizky dan Ahmad. Berbincanglah kami soal keseharian ketiga remaja ini.


Lia seusia saya, 23 tahun. Rizky berasal dari Klaten dan kini berusia 25 tahun. Ahmad merupakan mahasiswa berusia 22 tahun. Lia dan Ahmad dari Yogyakarta. Di Madre, Lia sebagai kasir, Rizky sebagai manajer, dan Ahmad sebagai waiters. Ketiganya memiliki latar belakang yang sama, yakni mengenal Madre dari Pak Broto. Pak Broto adalah pembina dari Deaf Art Community, komunitas bagi para remaja tuli Jogja yang ingin mengembangkan bakatnya melalui pantomime, dance dan teater. Lia, Rizky dan Ahmad mulanya merupakan anggota DAC dan juga sudah pernah menikmati penampilan dari panggung ke panggung DAC.

Logo DAC
Foto dari sini

Sebelum bekerja di Madre, Lia merupakan lulusan D3 STSRD jurusan DKV yang bekerja sebagai penjahit di beberapa konveksi. Di konveksi pertama ia berhenti karena kelelahan dan sakit selama 3 bulan. Di konveksi kedua lebih ringan karena bukan pabrikan besar dan bosnya cukup baik padanya meski sedikit bisa bahasa isyarat. Berbeda dengan konveksi pertama, dimana teman setempat kerjanya yang menerjemahkan bahasa isyarat pada bosnya demikian sebaliknya.


Roti bakar khas Madre

Begitu pun dengan Rizky yang juga merupakan lulusan SMK Muhammadiyah 2 jurusan teknik mesin. Rizky akhirnya bekerja di tempat produksi mebel di dekat rumahnya di Klaten dikarena ditolak bekerja di bengkel motor untuk melanjutkan apa yang sudah diajarkan sekolahnya. Di tempat mebel ini ia juga kesulitan berkomunikasi dengan bosnya karena bosnya tidak bisa bahasa isyarat. Selama bekerja di sana Rizky diterjemahkan oleh teman difabelnya yang lebih dulu bekerja di sana. Selain itu tekanan kerja juga membuat Rizky lebih memilih bolak-balik Jogja-Klaten setiap hari demi kerja di Madre.

Ahmad bekerja di Madre sebagai pengalaman pertamanya di dunia kerja. Ia sehari-hari gemar melukis realis dan humanis. Ahmad merupakan lulusan SMSR jurusan seni lukis yang melanjutkan kuliah di S1 seni lukis ISI Jogja dan satu-satunya difabel di jurusan seni lukis angkatannya. Seperti Rizky dan Lia, Ahmad dibantu oleh temannya untuk menerjemahkan apa yang dosennya katakan di kelas.


Ahmad yang paling depan kanan.
Foto dari sini
Berawal dari cerita Rizky dan teman-teman tuli mengenai kesulitan komunikasi di tempat kerja dan penolakan karena mereka difabel di beberapa tempat kerja, Pak Broto, Bu Amung dan Okty menginisiasi Madre. Sebuah sarana wirausaha inklusi untuk mengembangkan skill remaja tuli. Pada Desember 2014 lahirlah Madre dengan 5 pegawai. Lahirnya Madre ini membuat remaja tuli dari berbagai kota tertarik untuk bergabung setelah melihat liputan tentang Madre di Transtv. Di Madre, kawan-kawan remaja tuli maupun yang tidak tuli seperti Pak Broto dan Okty berkomunikasi satu sama lain dengan bahasa isyarat.

Lia, Rizky dan Ahmad sepakat bahwa Madre sangat nyaman, karena di sana mereka dapat lancar berkomunikasi satu sama lain. Tidak ada diskriminasi di Madre dan semua saling belajar. Inklusifitas Madre meminimalisir stress kerja pegawainya karena ada teman kerja yang bisa diajak berbicara. Madre ingin membuktikan bahwa lingkungan inklusi bisa diciptakan dan difabilitas bukan merupakan hambatan.

Lia dan Okty sedang saling bicara

Lia, Rizky dan Ahmad merupakan salah satu dari sekian banyak remaja difabel yang memiliki cita-cita agar tempat kerja inklusi diperbanyak di Jogja, agar teman-teman difabel tidak mendapatkan diskriminasi kerja. Kenyaman ini bukan berarti tidak memunculkan tantangan bagi Lia, Rizky, Ahmad dan kawan-kawan tuli di Madre. Ketika harus berhadapan dengan pembeli yang tidak bisa bahasa isyarat, pembeli yang komplain karena salah diantarkan pesanannya,  maupun soal manajemen internal Madre, dihadapi para remaja ini dengan semangat.

Berkenalan dengan Lia, Rizky, Ahmad, dan beberapa remaja tuli di Madre menyadarkan saya, bahwa mereka remaja yang sama dengan saya dan difabilitas bukanlah hambatan untuk berkarya. Aksesibilitas dan inklusifitas adalah hak setiap orang termasuk kawan-kawan difabel seperti Lia, Rizky dan Ahmad.

--

Siti Fata nama pena dari Fata. Biasanya dipanggil Fata Nurhaliza. Fata adalah remaja akhir di semester akhir jurusan Antropologi Budaya UGM. Ia tertarik dengan isu anak dan remaja setelah menjadi relawan untuk Jalan Remaja 2012 yang diadakan Yayasan Kampung Halaman. Sekarang lagi senang dengan isu difabel dan mencoba kembali membaca. Temui Fata di twitter @fatanurhaliza.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sedikit Catatan KKN di Jikotamo, Pulau Obi

Drama India dan Imajinasi Tentang Ibu Mertua

Remaja Perempuan dan Organisasi Desa: Cerita dari RW 55 Krapyak