Refleksi Hari Buruh: Ibu-ibu Rembang ke UGM


 Hari buruh baru saja kita rayakan. Marsinah kembali kita kenang. Tapi angka penduduk Indonesia yang bekerja sebagai buruh terus saja meningkat. 
 
Kata kesejahteraan seolah jauh dari masa depan mereka.

Hampir tidak ada lagi yang bekerja sebagai petani di negara ini. 
Tanah milik warga terus saja terampas atau terpaksa dijual untuk memenuhi kebutuhan hidup. Sedangkan pemerintah terus menaikkan tingkat impor beras dan lainnya yang justru tidak memperbaiki permasalahan awal mengenai tanah.

Postingan kali ini saya hanya menyuguhkan foto-foto yang saya ambil Maret silam tentang ibu-ibu Rembang yang memperjuangkan hak atas tanahnya yang terampas oleh modal.

 Foto ibu-ibu yang kelak juga akan menjadi buruh saja ketika hak atas hidup bebas di tanahnya sendiri benar-benar terampas.

Siapa lagi yang akan menjadi buruh?

Ketika menunggu di Gedung Rektorat UGM

Suasana lorong Rektorat UGM

Ibu-ibu yang sedang beristirahat diwawancarai oleh pers kampus

Spanduk yang menyuarakan kegelisahan mahasiswa dan ibu-ibu ini lantang bersuara

Sesi orasi mempertanyakan sikap UGM dan mahasiswa mengenai konflik Rembang dan lainnya

Ibu-ibu berdiri di garda depan bersama mahasiswa

"kain ini lambang perjuangan para petani, mbak."

Siapa yang ingin ikut mendukung ibu-ibu ini?

Bendera mahasiswa di sela-sela longmarch

Salam dari Gunretno (Sedulur Sikep) sebelum menyambangi Rektorat UGM

Semen dan Nurani?

Saya mengantarkan ibu-ibu Rembang ini kembali ke bus untuk pulang



Buku Rembang Melawan ini dapat dibeli di saya (083840783160). 
Buku ini berisi analisa para pakar soal kasus konflik agraria Rembang yang hasil penjualannya untuk donasi perjuangan ibu-ibu Rembang.
Harga Rp 40.000

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sedikit Catatan KKN di Jikotamo, Pulau Obi

Drama India dan Imajinasi Tentang Ibu Mertua

Remaja Perempuan dan Organisasi Desa: Cerita dari RW 55 Krapyak