Kamis, 19 Maret 2015

Divortiare dan HER: Cerita tentang Perceraian



Divortiare adalah novel kedua karya Ika Natassa yang terbit tahun 2008. Saya jatuh cinta pada metropop Gramedia yang ini melalui kisah perceraian Alexandra.

HER adalah film karya Spike Jonze yang premiernya tahun 2014 dan mendapatkan banyak nominasi oscar. Saya jatuh cinta pada bagaimana Theodore mengakui sebab perceraiannya.

Saya menyoroti isu perceraian yang dipaparkan kedua media penghibur ini meski barangkali maksud author keduanya bukan tentang perceraian. Sebenarnya saya memang menikmati cerita seputar pernikahan sejak remaja, HAHAHA.




Sudut pandang yang ditawarkan keduanya sama: 
orang pertama serba tahu.

Alex sebagai perempuan dengan karir mapan, anak tunggal dari keluarga baik-baik yang menggugat cerai suaminya, Beno - ketika usia pernikahan mereka baru 2 tahun. Alasannya sederhana: tidak ada bukti cinta lagi di sana. Demikian dengan Theodore yang terkenal sebagai penulis surat handal digugat cerai oleh istrinya yang cantik dan energik, Catherine, dengan alasan yang sama.

Alex dan Theodore membuat kita tahu bagaimana sudut pandang perceraian dari perempuan dan laki-laki. Meski sayangnya sudut pandang ini tidak untuk kasus perceraian di level ekonomi menengah ke bawah jauh dari mapan dan di luar kota metropolitan. Kapitalisme dan modernitas adalah latar dari hidup Alex dan Theodore.

Bagi Alex, segalanya menjadi sulit untuk memahami laki-laki yang dicintainya sejak menikah. Semuanya berubah dan berbeda dengan masa mereka pacaran. Beno, terlepas dari ganteng dan super kaya raya - ia bekerja sebagai dokter ahli bedah, ada sifat Beno yang nyatanya tidak bisa diterima oleh teritorial kesabaran Alex.

Theodore merasa tidak ada yang salah dengan diri dan cintanya pada Catherine. Hingga akhirnya Catherine tidak bisa mentoleril sikap egois Theodore. Padahal di awal tahun pernikahan mereka sangat indah. Theodore digambarkan tidak dewasa oleh beberapa scene film HER itu sendiri. Ketidakdewasaan ini disadari Theodore ketika Samantha mematahkan hatinya.



Permasalahan tokoh "Aku" pada Alex dan Theodore:

Alex harus mengenyam permasalahan klasik di tataran orang Jawa yang Indonesia banget: "Ngapain nikah dengan janda? Kayak gak ada perempuan perawan lagi aja di dunia ini." Permasalahan ini muncul ketika Alex kencan dengan seorang laki-laki, Denny. Selain karena Alex tidak bisa melupakan Beno yang selalu menolongnya justru ketika mereka telah bercerai dan menyelesaikan urusan harta gono-gini.

Theodore mencoba untuk terus menunda penyelesaian perceraiannya dengan Catherine dengan alasan klasik ala anak muda: "Aku belum bisa melepaskannya. Aku masih mencintainya." Penundaan ini berhenti ketika ia jatuh cinta dengan Samantha. Cinta yang membuatnya mabuk dengan imajinasinya sendiri dan lari dari realita lalu akhirnya melepaskan Catherine. Catherine tidak bisa menerima kenyataan mantan suaminya jatuh cinta pada software komputer.



Ending cerita keduanya?

Divortiare: Alex kembali pada Beno setelah instropeksi diri atas kesalahannya terhadap Beno selama menikah. Cerita rujuk pasangan jetset ini ada di sekuel kedua: Twivortiare.

Her: Samantha menghilang setelah mematahkan hati Theodore dengan mengungkapkan fakta bahwa sebagai software ia diprogram untuk jatuh cinta dengan ratusan user, tidak hanya Theodore.

Hal baik yang bisa diambil dari Divortiare adalah bahwa kemapanan dan kesempurnaan fisik tidak selamanya menjadi penyelamat pernikahan. Saya jatuh cinta pada perkataan Beno yang menjawab pertanyaan Alex mengapa ia menerima begitu saja talak dari Alex, padahal hingga saat ini ia belum menikah lagi. 

"Saya tidak mungkin hidup bersama orang yang tidak mau lagi hidup bersama saya."


Sedangkan dari Her saya belajar bahwa lari dari instropeksi diri menuju cinta yang lain adalah kebodohan kuadrat dalam pernikahan. Theodore dengan sederhana menjelaskan mengapa kita bisa bercerai? ke Amy - sahabat perempuannya yang juga bercerai. 

"Menikah adalah growing up together (tumbuh berkembang bersama). Karena we are growing up-lah sehingga seiring waktu berjalan, kita akhirnya bertemu di satu titik bahwa kita tidak bisa mempertahankan visi-misi untuk hidup bersama. Kita tidak bisa mengelak dari proses ini."

Sayangnya antara Her dan Divortiare tidak membahas soal anak dalam pernikahan mereka. Alex dan Beno belum memiliki anak saat cerai. Theodore dan Catherine tidak diceritakan bermasalah dengan anaknya ketika pisah ranjang. Padahal anak adalah yang paling terdampak dari perceraian.

Saya kemudian mengambil kesimpulan bahwa sebenarnya penting untuk memikirkan term and condition why we must being divorcee sebelum menikah dengan pasangan. Kita harus memikirkan planning terburuk bukan? Ini untuk menghindarkan diri dari luka berkepanjangan secara sepihak, termasuk kasus KDRT atau wife trafficking.

Jadi, siapa yang mau bercerai?

2 komentar:

  1. Nih buat tambahan bacaan: http://www.nationmaster.com/country-info/stats/People/Divorce-rate dan www.huffingtonpost.co.uk/laura-knowles/disney-delusion-relationships-_b_1235922.html

    BalasHapus
    Balasan
    1. ada juga link tentang angka perceraian di indonesia yang 70% digugat istri. tapi lupa apa.

      terima kasih untuk referensinya :)

      Hapus