Hari ke-7: Kenapa Harus Jatuh Padamu?

#30HariMenulisSuratCinta

Kepada perempuan yang rajin mengaji 
dan membaca.

Apa kabar hafalan ayatmu? Sudah sejauh mana? Sejauh jarak yang membentang di antara kita kah? Jarak yang membuatku menahan segala bentuk jelmaan rindu. Kadang rindu bisa berupa stalking akun medsosmu (yang bahkan jarang banget update, karena kamu tak seperti kebanyakan perempuan masa kini, update status sana-sini) selama berjam-jam atau sekedar ingin sms tapi semuanya berakhir di draft hape.

Kamu tahu, kamu membuat otakku kembali bekerja setelah sekian lama rehat dari segala penat. Pun memacu jantungku berdetak lebih cepat. Jatuh cinta padamu membuatku lebih sehat.


Tetapi, seandainya jatuh cinta itu gak perlu melalui KUA untuk pembuktian nyata, aku pasti benar-benar telah jatuh ke dalam relung sorot mata tajammu. Sorot mata perempuan cerdas yang akan menjadi sosok ibu cerdas bagi anak-anakmu kelak.

Dan seandainya jatuh cinta itu gak perlu diungkapkan melalui kata-kata, maka surat ini gak perlu ada. Toh membaca kitab kuning lebih  bermanfaat bagi kondisi keimananmu, daripada menyaksikan sebagian kecil dari kedunguanku di sini (tapi kamu semestinya menjadi semestaku). 

Aku semakin jatuh ketika mendengar cerita-cerita tentang kegiatan jurnalistikmu, kamu yang mengantuk ketika setoran hapalan sehabis isya, nilai-nilai kuliahmu yang kosong karena terlalu banyak kegiatan komunitas, ayahmu yang senang menyapu halaman dan keluhan-keluhan lain atas segala beban di pundakmu yang gak bisa kamu tahan sendirian. Mereka adalah candu bagiku untuk terus merawat indah senyumanmu.

Tetapi, dari sekian banyak pilihan kenapa aku jatuh kepadamu? Dari sekian banyak kecantikan kenapa aku terpesona kepadamu? Dari sekian banyak kesolehahan kenapa aku ingin menjadi imammu? Dari sekian banyak kesibukan kenapa aku merasa selo banget kalau udah tentang kamu? Dari sekian banyak laki-laki, kenapa aku memilihmu? Dari sekian banyak kemungkinan sperma ayahku berubah menjadi laki-laki, kenapa aku harus menjadi satu yang tak bisa bersanding denganmu?  

Ya, dari sekian banyak...
Aku jatuh padamu, perempuanku.

Dari aku yang tertelan badai,
Dan terus berandai-andai.
Perempuan di sisimu.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sedikit Catatan KKN di Jikotamo, Pulau Obi

Drama India dan Imajinasi Tentang Ibu Mertua

Remaja Perempuan dan Organisasi Desa: Cerita dari RW 55 Krapyak