Rabu, 04 Februari 2015

Hari ke-6: Laki-laki yang Sedang dalam Pelukan Perempuan

#30HariMenulisSuratCinta

Untuk kamu yang dulu pernah menjadi bagian 
dari mimpiku menuju KUA,

Jadi, bagaimana rasanya 'membersamai kita' dengan perempuan lain, Mas?

Eh, gimana? Pertanyaanku terlalu to the point? Atau diksinya terlalu kekinian? Setidaknya pertanyaan yang selalu muncul di tengah perjuanganku merelakanmu, telah aku sampaikan di sini. Pertanyaan yang tak sempat diucapkan kayu kepada api yang menjadikannya abu (ingat puisinya Sapardi yang ini?).


Aku bosan terus kucing-kucingan perasaan denganmu. Seperti sejarah Komunisme di Indonesia dengan Pemerintahan Orde Baru atau FPI dengan pajak club-club malam. Sebenarnya pertanyaanku juga gak perlu kamu jawab, aku sudah bisa menjawab melalui terkaan usia hubunganmu dengannya.
Bahagia.

Aku bisa apalagi selain mengamininya? Sedangkan untuk kembali mencintaimu, aku tidak mampu. Toh, salah satu tujuan aku mengakhiri kita di antara aku dan kamu adalah satu kata keparat itu. Mudah nulisnya, susah praktekinnya. Iya, bahagia.

Bukankah gitu, Mas? Kita selalu merasa yakin lebih mampu dibahagiakan oleh orang lain ketika hubungan kita tak pernah menjadi lebih baik. Seperti Annelies yang terus berpikir demikian sebelum kematiannya menyisakan duka bagi Minke. Seperti Laila yang berusaha menghindari Prameswara hingga kematian merenggut semua dari Laila.

Tapi berbahagia dengan perempuan lain memang hakmu. 
Kewajibanku adalah mendoakan kesehatan kedua orangtuamu.

Eh, gimana? Aku juga perlu jawab pertanyaanku sendiri yang di atas itu? Hm... Ini bukan tentang mencari penggantimu, Mas. Kamu juga tahu (tanpa aku beri tahu) bahwa aku pun bersama laki-laki lain, sekarang. Ini tentang bagaimana tidak kembali mengulang kesalahan. Seperti penolakan hukuman mati terhadap terpidana kasus narkoba dan memilih refleksi terhadap hukuman di Pulau Buru.

Mas, bagiku kesempatan kedua ada karena Tuhan yakin kita mampu merayakan ketakutan akan kehilangan. Meski kesempatan kedua bukan voucher karaoke yang bisa dengan mudah kita gunakan sesuka hati.

Aku merayakan kesempatan kedua dengan berusaha terus mendukung usaha-usaha idealismu. Status 'bukan pacar tapi siapa tahu kita bisa balikan' ini bukan alasan untuk berhenti mendukungmu. Dukungan yang tidak ingin kuperlombakan dengan dukungan dari perempuanmu. Sebab dukunganku memiliki doa tersendiri untukmu. Dan dukungan pacarmu mampu memberikan lebih dari doa, yakni cinta. Yang kini aku tidak bisa. 

Terima kasih sempat menjadi rumah bagi segala peluh, peluk, penat dan hangatku, Mas. Selamat membaca bersama perempuan yang pelukannya menjadi bagian bahagia hidup barumu!

Dari yang dulu lecet mukanya waktu kamu boncengin 
karena rambut gondrongmu gak kamu masukin ke helm,

NB :
Mungkin ini surat terakhir dariku. 
Lanjutannya lewat whatsapp aja ya.


3 komentar: