Hari ke-3 : Bau dan Biru yang Memudar

 

#30HariMenulisSuratCinta

Surat kepada Laut,
dan semua yang mencintainya

Apa lagi yang kurindukan selain bau keringat lelakiku di pukul 7 malam setelah ia bekerja seharian dan belum mandi lagi? Ialah bau udara asin yang menguar dari celah-celah tebing di bibir pantai diiringi debur ombaknya.

Bau itu tidak bisa kalian dapatkan selain di sana. Di antara hamparan luas pasir pantai dan udara panas yang selalu menggodamu untuk mencicipi dingin airnya. Bau itu tidak mungkin ada di kota yang penuh bau asap knalpot aneka kendaraan dan mesin pabrik. Bau itu juga tidak bisa ditandingi damainya dari bau-bau pedesaan, mereka bersandingan karena sama-sama bau alam yang mempesona.

Bau dan Biru yang membuatmu ingin menyelam lebih jauh lagi. Lalu membiarkan dirimu tenggelam dalam birunya. Jika tidak biru, maka kejernihan airnya melebihi kasih sayang orang tuamu. Bau asin seasin airnya. Lebih asin dari asam garam yang telah dimakan para motivator.

Bau dan Biru itu menyimpan kekayaan di dalamnya. Kekayaan yang sempat membuat negeri kita menjadi pengekspor garam terbesar dunia di masanya. Kekayaan yang membuat orang-orang berbondong ingin mengeksploitasi cahaya matahari atau ombaknya. Kekayaan yang diikuti goyangan nyiur hijau yang sempat menjadi primadona pula karena kopranya, dulu di negara kita juga. Kekayaan yang lebih hebat lagi adalah biota laut di dalamnya. 


Ikan-ikan secantik nemo, terumbu karang semewah di liputan-liputan di National Geograpic mana yang kamu dustakan? Bahkan birunya lebih candu dibandingkan sabu-sabu atau ganja termahal di dunia. 

Tapi apa yang bisa kita lakukan jika bau asin dan biru itu memudar? Lamun tak lagi bergoyang menyapa kaki yang terkena gigitan ombak bibir pantai. Ikan-ikan tongkol kehilangan samudera terdalamnya untuk bercengkrama. Ekosistem laut kehilangan keseimbangannya. Sampah dimana-mana. Padahal kita belum sempat mendidik anak-cucu kita.
Bau dan Biru yang kelak hanya benar-benar kamu rindukan, yang sekarang kamu banggakan dari foto-foto diving bawah air atau sekedar pasir putih pantainya. Bau dan Biru yang memudar.

Pulau Pramuka - Foto dari Dompet Dhuafa

Pulau Pramuka - Foto dari Dompet Dhuafa

dari salah satu yang mencintaimu
dan ingin sekali menjadi Putri Duyung,

Ipah.

Komentar

  1. buset.. tuh sampah yg di foto buanyak sekali, gimana ikan betah apalagi mau berkembang biak yg banyak, uni ulah siapa? pastinya orang yg tdk bertanggungjawab,

    saran hastagnya ada yg salah ketik diatas.
    #30HariMenurlisSuratCinta

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sedikit Catatan KKN di Jikotamo, Pulau Obi

Drama India dan Imajinasi Tentang Ibu Mertua

Remaja Perempuan dan Organisasi Desa: Cerita dari RW 55 Krapyak