Senin, 16 Februari 2015

Hari ke 19 : Cinta dari Keluargamu

#30HariMenulisSuratCinta

Mas, aku mungkin terlihat tidak mencintaimu. Bukan berarti aku tidak mencintaimu. Ini hanya soal waktu dimana aku masih belum mau berkorban banyak untukmu. Lebih dari sekedar menyisipkan namamu untuk kutemui di sela-sela sibukku.

Mas, jika memang aku begini, cukupkah aku sebagai penggenap separuh agamamu? Bahkan aku sendiri selalu berpikir, barangkali hidupmu akan semakin ganjil dengan kehadiranku. Pacaran memang mudah. Tapi berbagi ranjang dan mendengarkan keluh kesah panjang itu susah. Apalagi jika harus seumur hidup

Mungkin, aku memang cukup bagimu. Dicukupkanlah kalau gak cukup. Katanya Tuhan gak akan kasih rejeki cukup jika kita tidak merasa cukup. Tapi, bagaimana dengan keluargamu? Karena aku kelak tak hanya menikahimu, melainkan juga menikahi keluargamu.

Sedetail apapun kamu mencoba menceritakan bagaimana keluargamu, seperti apa kedua orang tuamu, bagaimana tingkah adik dan kakakmu, kurasa hal itu tidak akan mempengaruhi pilihan mereka untuk menerimaku menjadi bagian dari keluargamu. Atau kusarankan jangan pernah ceritakan tentangku terlalu detail kepada mereka.

Banyak yang bilang aku bukan perempuan baik-baik. Aku berkali-kali terjatuh dan hampir kehilangan hidupku. Keluargaku tak senormal keluargamu. Bahkan ketika aku bersamamu, banyak perempuan yang berusaha menyelamatkan nyawamu. Mereka kira aku tak bisa melakukan apa-apa. Mereka kira aku tak memiliki apa-apa dan tak berhak memiliki apa-apa. Tapi aku memang merdeka! Merdeka atas semua kekuranganku. Setidaknya aku tak pernah mengutuk Tuhan atas semua yang kualami dulu dan nanti.

Oh dan ya, aku tidak bisa memberikanmu pesta pernikahan yang megah. Bukan tak ingin, tapi aku lebih suka uang-uang yang kutabung selama ini untuk bekal sekolah anak kita besok. Bahkan aku tak yakin jika ada pesta pun, apakah orang tuamu sudi bersanding dengan orang tuaku. Tak punya nama, tak punya jabatan, tak punya kasih sayang untuk anak-anaknya dalam bentuk uang.

Bagaimana hendak kamu ceritakan pada kakak dan adikmu tentangku yang tak bisa jadi kakak ipar idaman mereka? Gemar menolong, mendengarkan, dan mampu menjadi penengah. Aku tak sesempurna itu. Aku pun memiliki masalahku sendiri. Dan ketika aku memiliki masalah, akankah mereka mau menolongku? Atau justru membelamu mati-matian padahal dirimu yang salah?

Banyak yang bilang bahwa 
kita tidak akan bisa menjadi diri sendiri, 
jika kita berusaha untuk membahagiakan semua orang.

Demikian denganku, Mas.

Mas, aku memilih mundur dan membiarkanmu membawa perempuan lain ke hadapan kedua orang tuamu dan kakak adikmu, ketika aku tidak mendapatkan tatapan penerimaan dari mereka ketika pertama kali kau membawaku ke sana. Buat apa hidup dengan orang yang enggan menerima kehadiran kita? Itu adalah siksa api neraka di dunia.

Mas, cinta untukku mungkin memang akan banyak kau berikan. Tapi cinta keluargamu untukku, tak bisa kau paksakan.

Kau harus tahu ini.
Aku siap menyerah kapan pun atas hubungan kita.

Dari aku yang realistis tapi banyak orang bilang 
aku hanya tidak tahu cara menggunakan pelet.

2 komentar: