Selasa, 03 Desember 2013

Catatan Perjalanan Singkat dari Bali


السلام عليكم ورحمة الله وبركاته



alhamdulillaah,
niat untuk posting blog akhirnya terlaksana juga.
semoga tugas-tugas kuliah segera usai.
amiin.

pada tanggal 8 Oktober 2013, Gusti Allaah yang Maha Pengasih dan Pemberi memberikanku rejeki untuk berkunjung ke Bali. ranah yang lebih dikenal oleh orang luar negeri tinimbang nama Indonesia sebagai negara itu sendiri. tanggal 10 Oktober 2013 saya mengakhiri perjalanan perdana ke Bali. perjalanan ini saya lalui bersama Lulung, Mas Ari, Garil, Ika, Nisa, Biyan, Kamil, Bude Ayik dan Pakde Farid. 

ada rasa haru yang menjadi oleh-oleh bagi diri sendiri setelah dari Pulau Tuhan (Dewata), yakni bagaimana menjadi minoritas (saya Muslim) di tengah-tengah Mayoritas (mayoritas penduduk asli Pulau Bali beragama Hindu). di Jogja, yakni tempat saya tinggal, saya akan mendengar suara adzan bersahut-sahutan. sehari 5 kali meski saya terpanggil untuk melaksanakan sholat hanya sekali sehari. suara adzan begitu lantang dan paling menang. tapi di Bali, saya tidak pernah mendengar suara adzan. setidaknya di tempat saya menginap, di daerah Denpasar.

di Jogja, melihat orang berbondong-bondong ke Mesjid ketika adzan berkumandang adalah wajar. apalagi orang-orang tuanya. tapi di Bali pemandangan itu berganti dengan para laki-laki dan perempuan, tua dan muda, dengan pakaian rapi, berwarna putih, mengenakan sarung dan udeng untuk laki-laki, dan mereka berbondong-bondong datang ke Pura Desa. tidak pagi dan tidak malam. mereka senang berdoa dan bersyukur, tutur Pakde Farid yang bekerja di Sanur.

berkat ijin Gusti Allaah juga saya diberi kesempatan untuk melihat salah satu proses sembahyang orang Bali di Bedugul. setelah menunggu cukup lama mengamati mereka bersembahyang dengan khusyuk (sampai hampir ditinggal rombongan), salah seorang Bapak menghampiri saya. beliau bertanya darimana asal saya, barangkali karena saya berkerudung dan begitu gigih melihat mereka sembahyang. lalu beliau menjelaskan upacara apa yang sedang dilaksanakan: Ritus Meajen-ajen, yakni ritus yang dilaksanakan setelah Ngaben untuk melepas roh orang yang meninggal.

meski sangat disayangkan tidak bisa melihat Ngaben, ritus paling mengesankan, saya harus tetap bersyukur sudah disambut ramah oleh mereka. sesampainya di tempat menginap, jika sebelum jam 11 malam, saya akan dapat mendengarkan sejenis lantunan ayat atau doa orang Bali yang sedang beribadah dari pengeras suara sejak matahari terbenam. ibaratnya jika di Jogja mendengar orang mengaji sampai malam.

pengalaman mengesankan menjadi minoritas di tengah-tengah mayoritas. semoga menjadikan diri saya lebih toleran terhadap yang berbeda dengan saya serta memotivasi saya untuk lebih rajin berbuat baik tanpa pandang bulu. 

satu pertanyaan lagi: 
adakah kehidupan peribadatan orang Islam menarik di mata penganut agama lain, sebagaimana saya tertarik dengan peribadatan orang Hindu?

 di dalam pesawat

 di Bandara Ngurah Rai

 Pemakaman Islam

 pintu masuk Tanah Lot

 orang jualan souvenir dan lukisan

 dilarang masuk

Pura di tengah laut. di Tanah Lot

senja di Pantai Kuta

 ada sajen meski di pantai

 matahari terbit di Pantai Sanur

 jalan tol di atas laut

 tanjung Benoa

 berjalan menuju Pulau Penyu

 Biyan ngasih makan penyu

Samudera Hindia di Ulu Watu


 patung di pintu masuk Joger Pusat

 selesai sembahyang Meajen-ajen

 saat sembahyang Meajen-ajen

 Pura Bentara di Bedugul

 Gunung Batur

 Pura Desa Pakraman Ubud

terminal kepulangan

terima kasih Gusti Allaah!

صَلَّى اللّهُ عَلَى مُحَمَّد - صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّم

4 komentar:

  1. keep sharing dan posting yg berkualitas gan :)

    BalasHapus
  2. Bali pulau yang indah dan terkenal di Indonesia gan, Mantap deh

    BalasHapus
  3. indah ya kalau sesama umat beragama saling menghormati :) foto2nya juga bagus :)

    BalasHapus
  4. Dan kamu belum bisa melupakan Gerard Way (salah fokus).
    Artikel dan fotonya bagus, Mbak.

    BalasHapus