Seri Instropeksi Diri: Aksi Nyata, Kita Pasti Bisa!


السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Alhamdulillah,
Semoga dipertemukan lagi dengan Ramadhan!

“Jangan cuma bisa nyinyirin 
Pemerintah!”

Kalimat seruan yang betul-betul seru membuat mulutku berpikir ulang untuk mengomentari kinerja Pemerintah. Aku jadi bertanya-tanya, apakah betul aku remaja yang talk more do less dan menikmati ketika menjelek-jelekkan Pemerintah negaranya? milkysmile

Padahal, berita di televisi atau twitter selalu dengan gamblang memaparkan pejabat A korupsi sekian milyar, pejabat B tidur saat sidang, dewan C membuat kebijakan yang merugikan rakyat, pejabat D belum berhasil menuntaskan kasus X, pejabat E masih belum tahu cara menyusutkan lumpur di Sidoarjo milkysmile, pejabat F korupsi uang amanah pengadaan blablabla, pejabat G merombak kurikulum sekolah di Indonesia (lagi) dan lain sebagainya. Itu baru tingkah laku sebagian pejabat dengan tunjangan yang luar biasa dari uang rakyat. Belum lagi masalah kemiskinan, pendidikan, kesehatan atau dengan kata lain kesejahteraan rakyat yang tidak pernah tuntas dan selalu berhenti sebagai “sasaran kampanye” ketika PEMILU saja. 

Duh dek...
Meski pun berita di TV tidak semuanya bisa kamu anggap serius,
Pemerintah kita memang sebegitu bikin ngelus dada-able
kita sebagai rakyat juga perlu instropeksi diri. 

Seperti kata-kata, 
Jangan tanyakan apa yang sudah Negara berikan padamu,
 tapi tanyakan apa yang sudah kamu berikan untuk Negaramu”. 

Jadi, misalnya aku menolak kenaikan harga BBM, maka seharusnya aku gak membuang-buang bensin untuk hal-hal gak penting, misal berpergian bukan untuk membantu orang. Misal aku mengkritisi Pemerintah yang gak bisa menuntaskan kemiskinan, maka seharusnya aku tidak menghambur-hamburkan uangku selain untuk membantu mereka yang miskin. Atau misal aku benci dengan sistem pendidikan Indonesia yang sekarang, maka seharusnya aku melaksanakan gagasan atau minimal menemukan ide baru cara mendidik yang efektif dengan fasilitas yang jauh dari memuaskan, bisa juga dengan ikut komunitas yang mengajak untuk memberi bimbingan belajar bagi anak-anak yang kurang mampu secara cuma-cuma milkysmile. Barangkali juga begini, jika memang calon pemimpin negara kita serius ingin berantas kemiskinan, maka seharusnya mungkin anggaran pengadaan spanduk yang isinya penuh wajah mereka dan bertebaran di jalanan bisa dialokasikan untuk menciptakan lapangan kerja baru yang menyerap banyak tenaga kerja.

Seharusnya-seharusnya inilah yang 
seharusnya segera dilakukan.

“Sekarang bukan masa Orde Baru, dimana musuh bersama adalah pemerintahan yang otoriter dan demonstrasi mendapatkan posisi untuk menang pada waktu itu. Sekarang jika mau melawan, tunjukkan dengan tulisanmu atau tindakanmu dalam kegiatan seperti  kalian ini –menjadi relawan!
Arie Sudjito - UGM saat di KAGEM 

Sebab sekarang jamannya orang yang cuma nyinyirin Pemerintah
bakal lebih dinyinyirin sama orang lain. 

Aku juga setuju sih, karena memang lebih sulit mewujudkan apa yang kita omongkan sebagai bentuk pertanggungjawaban nyata. Tetapi bukan berarti kita menutup mata dari kesusahan di sekitar kita dan luput mengawasi kinerja Pemerintah kita yang digaji dari pajak yang orang tua kita bayar  #sikap. Jangan lupa tetap khusnudzon dengan Pemerintah dan selalu cari apa yang bisa membuat kita bersyukur tinggal di negara ini.

NB: Postingan ini gak bermaksud menggurui. 
Wong aku juga masih belajar bergerak.

"Nah, yuk langsung berbuat! 
Kita pasti bisa!"
صَلَّى اللّهُ عَلَى مُحَمَّد - صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّم

Komentar

  1. Ketika kamu belum bisa berbuat untuk negeri ini, maka nyinyirilah pemerintah #nasehatsesat

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sedikit Catatan KKN di Jikotamo, Pulau Obi

Drama India dan Imajinasi Tentang Ibu Mertua

Remaja Perempuan dan Organisasi Desa: Cerita dari RW 55 Krapyak