Stop Bullying! Klise tapi Penting!


السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

gambar dari Google

Alhamdulillaah,
Semoga postingan ini bermanfaat!
Postingan curhat hahaha
Photobucket

Beberapa saat yang lalu ada berita kematian seorang EO acara besar (Locstock #2) di Jogja karena almarhum di-bully via medsos. Buatku ini kabar yang bikin miris Photobucket. Buat orang lain, mungkin mereka berpikir, “Idih, lebay amat sih cuma dibully sampai bunuh diri gitu! Gak kuat iman tuh pasti!” 

Oke, aku anggap reaksi seperti di atas adalah wajar bagi mereka yang memang belum merasakan dibullying bahkan tidak tahu bullying itu sendiri apa. 

Bullying memang tindakan yang sangat subyektif 
sehingga pendapat tentang bullying juga bersifat subyektif. 

Apa yang dirasakan oleh korban bullying sangat bersifat subyektif dan sudah sangat jelas pihak lain tidak akan dapat ikut merasakan atau mengalaminya, sehingga sulit mencari empati untuk korban bullying. 

Alasan si bullyer untuk bullying itu sendiri juga subyektif sehingga ia terkadang tidak sadar bahwa apa yang dia lakukan adalah bullying. 

Dampak subyektifitas dari bullying juga membuat korban bullying biasanya tidak sadar bahwa mereka mengalami bullying.

Tindakan-tindakan yang termasuk bullying adalah mengejek dan menghina baik dari segi fisik maupun menggunakan nama orang tua atau kekurangan keluarga, mengancam, memeras, meneror baik secara langsung atau tidak, melecehkan baik secara seksual atau non-seksual, menyakiti dari segi fisik maupun mental, dan tindakan merugikan lainnya terhadap orang lain. Photobucket

Beberapa istilah dalam bahasa Indonesia yang seringkali dipakai masyarakat untuk menggambarkan fenomena bullying di antaranya adalah penindasan, penggencetan, perpeloncoan, pemalakan, pengucilan, atau intimidasi (Susanti, 2006).

Buat aku yang pernah menjadi orang yang di-bully
bullying adalah mimpi buruk.

Masih mencari jati diri sebagai remaja dan beradaptasi di lingkungan baru. Saat masih mencari teman di kelas 1 SMA, aku membuat kesalahan. Aku menghina dua orang temanku dan aku gak sadar kalau apa yang aku perbuat adalah penghinaan.Photobucket

Efeknya: aku dikucilkan oleh teman-teman perempuan satu kelasku –kecuali oleh tiga atau lima orang, aku sampai lupa –selama 1 semester, disergap oleh mereka –yang mengucilkanku –dikata-katai dengan pelan hingga dibentak-bentak menggunakan kata-kata kasar dan hingga kini salah seorang dari mereka masih membenciku dengan senang hati. Belum termasuk rasan-rasan mereka sebelum aku disergap dan menahan mangkel seorang teman yang “ember bocor”. Photobucket

Mungkin reaksi kalian membaca efek yang aku alami, begini,
“Alah, itu kan memang salahmu, pah! Ya, kamu harus terima itu dong! Lagian cuma dikucilkan dan dibentak gitu, masa kamu bilang itu bullying?! Dih, kamu lemah banget sih, pah?! Aku kalau cuma digituin sih gak ada apa-apanya! Kamu aja tuh yang terlalu sensitive! Terlalu perasa!

Atau,
“Alah, orang yang ngerasa itu semua adalah bullying tuh PENGECUT! PENAKUT! MENTAL TEMPE! LEMAH! Aku digituin biasa aja tuh!”

Iya, aku bisa terima reaksi kalian seperti di atas. Aku juga gak menuntut kalian yang baca ini ngertiin aku, wong ini masalahnya udah berlalu. Pada masa itu aku juga menganggap enteng apa yang aku alami. Tapi perasaan tertekan tidak memiliki teman dan tidak bisa cerita pada siapapun, termasuk orang tua, dan ketakutan untuk percaya lagi kepada orang lain dari masa itu masih terbawa sampai saat ini dan membuat sedih jika teringat. Photobucket

Kemudian secara tidak langsung bullying membentuk sifat baru dalam diriku:
1. Lebih berhati-hati dalam berpendapat
2. Cenderung mampu menerima pendapat orang lain
3. Lebih mudah memaafkan orang lain
4. Tidak menganggap semua orang teman
5. Menjadi introvert. Photobucket


Tidak semua ending cerita bullying berakhir sebermanfaat aku. Sehingga tidak heran jika diberbagai negara atau di tempat lain, bullying memunculkan ketidak-percaya-dirian  dalam bersosial, dikucilkan dalam sebuah masyarkat, hingga berujung pada keputus-asa-an dan berakhir dengan bunuh diri karena tidak sanggup menanggung malu dan tidak ada yang mau merangkulnya.Photobucket

Cuma satu pesanku, jika bisa berbuat hal yang lebih bermanfaat bagi sesama, kenapa harus berbuat hal yang merugikan seperti bullying? Masih banyak kaum dhuafa dan anak yatim-piatu yang membutuhkan bantuan tangan kita. Jangan lupa jika bertemu korban bullying, rangkul mereka karena mereka membutuhkan orang yang peduli pada mereka. Photobucket

info lebih detail tentang bullying,
KLIK gambar di bawah ini!
gambar dari Google

“Kesalahan orang-orang pandai ialah menganggap yang lain bodoh, dan kesalahan orang-orang bodoh ialah menganggap orang-orang lain pandai” 
Pramoedya Ananta Toer

صَلَّى اللّهُ عَلَى مُحَمَّد - صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّم
Salam Anti-Bullying,

Komentar

  1. Sepakat...sebagai Guru, aku juga sangat menentang Bullying...
    @Prof IjoPunk : iya..lok2an tapi yang parah dan bikin depresi penerimanya :)

    http://karila.blogspot.com
    www.ArilexShop.com

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sedikit Catatan KKN di Jikotamo, Pulau Obi

Drama India dan Imajinasi Tentang Ibu Mertua

Remaja Perempuan dan Organisasi Desa: Cerita dari RW 55 Krapyak