Surat untuk Takita #2: Keluargaku Bukan Sekolah Biasa

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Alhamdulillah…
Posting spesial untuk dik Takita lagi!


Hai Dik Takita. Apa kabar sayang? Senang sekali mengetahui usaha dik Takita untuk menulis didukung oleh Ayah-Ibu adik, apalagi tema surat adik kritis sekali. Kakak gemar dan gembira membaca surat dari adik, semoga dik Takita tidak bosan ya baca surat kakak lagi hehehe *brb nyuguhin Takita MABASA*

Kakak setuju sekali bahwa pendidikan awal yang diraih oleh seorang anak adalah pendidikan dalam keluarga. Kakak juga ingat di pelajaran Sosiologi SMA dulu, lingkungan pertama yang harus dilalui seorang anak sebagai proses pembelajaran adalah lingkungan keluarga. milkysmile Sehingga sudah semestinya orang tua betul-betul memfokuskan pendidikan anak di keluarga, tidak serta merta membebani pendidikan pada sekolah formal-nonformal saja. Duh, bahasanya berat ya, dik? Mari kakak beri contoh efek pendidikan oleh keluarga bagi anak:
  • TK PERTIWI (Dsn. Cengis, Ds. Simpur, Kec. Belik, Kab. Pemalang, Prov. Jateng)
Kakak pernah mengajar selama seminggu di TK mungil nan tangguh ini dalam rangka penelitian. Ada seorang anak yang sangat pandai membaca, sangat rajin dan rapi dalam menulis saat kakak bimbing. Di satu sisi ada seorang anak yang lambat dalam membaca bahkan tidak rapi saat mewarnai. Kenapa bisa demikian? Kakak pun mencari tahu.
Kakak    : “Wah, Mbak Vivi pintar sekali membacanya. Siapa yang ngajarin, Sayang?”
Dik Vivi : “Ibu, mbak. Di rumah aku belajar sama ibu.”
Kakak  : “Kalau gitu Mbak Vivi sudah berterimakasih ke ibu belum sudah diajarin baca?”
Dik Vivi : “Iya, mbak. Terima kasih ya!”

kak Dimas bersama Dik Faisal

Siangnya, ibu Dik Vivi bercerita kepada kakak bahwa anaknya sangat semangat membaca dan sang ibu pun jadi semangat menemani. Kakak pun lalu bertanya kepada Bu Dewi tentang teman kita yang sedikit kesulitan dalam belajar.

Bu Dewi: “Iya, Mbak Fata. Untuk perkembangannya Reva selama sekolah di sini memang tidak secepat teman-temannya yang lain. Apalagi dia juga sulit untuk diajak berbicara, tertutup. Mungkin memang kurang dukungan dari keluarganya. Soalnya sejak awal sekolah di sini, orang tuanya gak pernah ngantarin dia ke sini.

Kakak: “Lho terus waktu pertama dia sekolah di sini dia diantar siapa? Yang ambil rapor dia siapa?”

Bu Dewi: “Neneknya, mbak. Itu aja neneknya Cuma ngantar seminggu pertama sekolah. Saya juga bingung ada apa dengan orang tuanya kenapa tidak pernah sama sekali ke sini.”

Kakak: “Iya, mbak. Saya juga sempat iseng antarin dia pulang ke rumah. Ternyata rumahnya jauh. Tapi saya heran, kenapa pas sampai di rumahnya saya gak disapa orang tuanya. Ya, bukannya saya juga menuntut untuk disapa, tapi kan sewajarnya mbak.” milkysmile

Bu Dewi: “Tapi coba mbak perhatikan dia bilang apa? Ingin menjadi kupu-kupu, bukan jadi dokter atau pilot seperti teman-temannya. Itu juga sudah menjadi pertanda psikologis dia. Setiap teman-temannya jajan, dia sendiri yang tidak jajan sampai kadang saya kasih dia sekedar seribu. Tapi bukannya dipakai jajan, waktu saya tanya, untuk ditabung katanya.”

kak Ipah bersama adik-adik TK PERTIWI

Itu sebagian percakapan kakak dengan Bu Dewi, kepala sekolah TK PERTIWI. Terus masih ada contoh lain nih, dik Takita.

Kakak pengajar tidak tetap di Yayasan Rumah Belajar Kreatif KAGEM. Saat itu ada kegiatan bernama kelas #inspiratifKAGEM bersama kak Dipa Raditya dari HI UGM. Kak Dipa mengajak adik-adik #rumbelKAGEM untuk menuliskan cita-cita mereka. Ada satu cerita dari Dik Anis,

Kak Dipa: “Dik Anis kelas berapa?”
Dik Anis: “Kelas 1.”
Kak Dipa: “Dik Anis besok kalau sudah besar mau jadi apa?”
Dik Anis: “Mau jadi pedagang kak.
Kak Dipa: “Lho, kenapa?”
Dik Anis: “Biar bisa bantu Ibu.
Kak Dipa: “Ibunya dik Anis juga pedagang ya?”
Dik Anis: “Iya.”
adik-adik KAGEM bersama kak Dipa

Dan kakak relawan KAGEM pun terharu mendengar jawaban Dik Anis disaat adik-adik lainnya menjawab ingin menjadi dokter, polisi atau pemain sepak bola. Saat ditanya tokoh yang diidolakan, Dik Anis menjawab Ayah-Ibunya.

Dik Takita masih bingung kenapa sih kakak memaparkan contoh di atas? Karena contoh di atas membuktikan pentingnya peranan orangtua dan keluarga dalam menciptakan lingkungan yang nyaman dan kondusif bagi anak sekaligus anggotanya untuk belajar tentang segala hal.

Dik Vivi atau Dik Anis dapat berkembang dengan baik sebaik itu berkat dukungan orang tuanya, sebab sekolah-sekolah di Indonesia tidak dapat memberikan lebih selain “tugas rumah” dan “ujian nasional”. Dampak sebaliknya juga bisa Dik Takita lihat di cerita dari Dik Reva, sedih bukan? Bahkan Dik Reva terkadang menggunakan seragam yang tidak semestinya ke sekolah. milkysmile

bimbingan dari kak Merin di KAGEM

Adapun dengan keluarga kakak, hidup terpisah dengan Ayah sejak umur kakak 7 tahun sampai sekarang, hidup terpisah dengan abang-kakak-adik sejak umur kakak 9 tahun, dan kini hidup terpisah dengan ibu kakak sejak 2 tahun yang lalu, tumbuh di keluarga seperti ini membuat kakak tumbuh menjadi remaja yang “tidak biasa” karena didikan lingkungan keluarga kakak yang “tidak biasa” pula.

Saat kakak beranjak besar dan merenungi perkembangan adik-adik di sekitar kakak, menjadikan kakak sadar penting dan kuatnyanya peranan keluarga dan orang tua terhadap lingkungan belajar kakak.

Itulah cerita dari kakak. Jika Dik Takita kesulitan dalam membaca atau memahami, jangan ragu ajak Ayah-Ibu Takita tuk ikut membaca surat kakak ya!

Lomba 
Blog Takita
صَلَّى اللّهُ عَلَى مُحَمَّد - صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّم

Peluk Hangat,

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sedikit Catatan KKN di Jikotamo, Pulau Obi

Drama India dan Imajinasi Tentang Ibu Mertua

Remaja Perempuan dan Organisasi Desa: Cerita dari RW 55 Krapyak