Kamis, 25 April 2013

Tantangan Anak Desa Terhadap Masa Depan (Catatan dari Simpur, Pemalang)


  السلام عليكم ورحمة الله وبركاته


Alhamdulillah,
akhirnya posting lagi setelah hiatus berbulan-bulan!
milkysmile

Apa yang kalian pikirkan ketika baca berita tentang "Anak Usia 12 Tahun Bekerja Untuk Cukupi Hidup 3 Adiknya. Sehingga Harus Putus Sekolah" sedangkan di bawah berita tersebut ada berita "5 Anak SD Perkosa Teman Sekelasnya Sendiri"?


Miris?
Photobucket
Takut?
Photobucket
Sedih?
Photobucket
Senang?
Photobucket
Takjub?
Photobucket

Begini, mari kita merenung sejenak bersama. Sadarkah kita bahwa anak-anak yang hidup di jaman sekarang adalah hidup di jaman yang lebih keras dibandingkan saat kita kanak-kanak dahulu?
Kok bisa lebih keras? Wong anak-anak jaman sekarang sudah bebas menggunakan komputer & handphone canggih, akses internet mutakhir, media massa yang demokratis, negara dunia ketiga yang terus membangun, dan peredaran uang yang cepat serta melimpah. Coba bayangkan kita dahulu, mau main Play Station saja harus nabung seminggu dan main di rental.
milkysmile
Ingat, segala bentuk perubahan selalu membawa dualismenya: baik dan buruk meski itu perubahan yang dinamakan Dunia Barat sebagai KEMAJUAN. Mari kita cek satu-satu:

1. Kecanggihan teknologi
Kecanggihan teknologi akan memudahkan siapapun untuk mengakses apapun. Memudahkan di sini bahwa tidak perlu usaha giat bagi anak-anak ini untuk merajut gelang karet satu per satu untuk lompat tali, menggambari petak-petak tanah bermain engklek, memotong dahan pohon pisang membentuk pistol-pistolan, membuka buku di perpustakaan saat ada tugas yang tidak dimengerti dll. milkysmile

Kemudahan ini yang memudahkan kita lupa pada hal penting, "anak-anak menjadi perlu pengawasan lebih akan hal-hal yang mudah mereka peroleh sehingga hal-hal tsb tidak mudah mempengaruhi masa depan mereka".

saya belajar gerakan Tari Rampo bersama adik-adik KAGEM
2. Internet mutakhir
Saya pernah iseng ke warnet waktu balik ke Solo untuk mengenang masa-masa blogging jaman dahulu. Lah, di sebelah saya (bilik warnetnya tidak tinggi) ada anak-anak buka Youtube & Google mencari konten "panas". Padahal kata operator warnet kenalan saya, sesungguhnya setiap link yang diakses bisa dipantau. Bagaimana jika mereka akses via handphone dan dengan bluetooth yang menyala di tempat tertentu mereka bisa mendapatkan "video panas"? milkysmile

Internet yang mutakhir adalah salah satu efek teknologi maju dan bentuk kemudahan. Anak-anak jadi bisa tahu banyak untuk memenuhi fase pengenalan mereka terhadap lingkungan selain keluarga. Tahu banyak bukan berarti tahu tanpa batas kan?

 keceriaan adik-adik dan relawan KAGEM

3. Media massa demokratis
Televisi, film, musik, majalah, koran dan buku saat ini semakin massive saja konten di dalamnya. Saking massive-nya muncul sinetron-sintron yang pemainnya anak-anak & remaja tapi isinya memamerkan kekayaan dan percintaan semata. Belum lagi media sosial di dunia maya yang tidak sedikit memaparkan informasi-informasi di atas umur mereka secara vulgar seperti iklan pembesar "maaf" dst? Sering saya mendengar adik-adik berkata "kasar". milkysmile

Ke-demokratisasi-an ini yang menjadi tantangan kita sebagai kakak-kakak mereka untuk bisa memahami karakter mereka yang "lebih cepat dewasa" dibandingkan dengan kita. Hal ini menuntut kita sebagai kakak mereka bergerak lebih kreatif agar mampu menjadi inspirasi bagi mereka.

kak bayu bersama adik dari TK Pertiwi Pemalang presentasi tentang cita-cita

4. Pendidikan maju yang dipertanyakan
Isu perubahan kurikulum dan pelaksanaan Ujian Nasional yang bermasalah sempat membuat seisi timeline di twitter saya (isi timeline tiap orang beda kan?) heboh seharian lebih. Sudah bukan hal yang asing ketika mendengar "pendidikan di Indonesia dikomersilkan" dan pendidikan di Indonesia disetir oleh Amerika sejak 1950an. Juga negara Finlandia disebut-sebut sebagai negara dengan kualitas pendidikan terbaik. milkysmile

Bukankah lebih baik kembali kepada hakikat pendidikan sesuai KBBI? Yakni mendewasakan. Mengembalikan tugas guru bukan hanya sekedar menjejali pelajaran akademis tetapi juga MENDIDIK. Menjadikan anak cerdas menghadapi masalah kehidupannya, bukan hanya di kertas ujian saja?

saya dan teman KKN dari UNPAD di depan SDN 2 Simpur, Pemalang

Sesungguhnya masih banyak hal yang penting untuk didiskusikan dan postingan ini hanya bersifat pengamatan dangkal. Saya sendiri mengaku senang bergelut dengan dunia anak-anak (bukan gelut = padu = berkelahi *jawa*) & prihatin dengan keadaan anak-anak di jaman sekarang, tetapi saya tidak bisa melakukan hal yang lebih untuk kelangsungan masa depan anak-anak ini. milkysmile

Kenapa kita harus membantu adik-adik ini? Maukah kita kembali melihat kasus-kasus perkosaan teman seumuran atau bertambahnya anak sekolah yang melakukan freesex? milkysmile Atau maukah kita menjadi bagian dari masa depan mereka yang cerah dan menjadi inspirasi bagi mereka? Sebab anak-anak sekarang bukan hidup di dunia dongeng seperti kita dahulu, mereka anak-anak di negeri kenyataan yang mengerikan.

kakak dari Antropologi Budaya UGM berbagi bersama adik-adik TK Pertiwi Pemalang

milkysmile
صَلَّى اللّهُ عَلَى مُحَمَّد - صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّم

0 komentar:

Posting Komentar