Kamis, 22 Maret 2012

Berteman dan Bertepuk Sebelah Tangan


السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Sejak kecil seingat saya, saya tidak pernah diajarkan oleh orang tua saya bagaimana caranya berteman. Seingat saya lagi, saya belajar berteman dari bimbingan lingkungan. Hidup memang selalu mengajarkan kita banyak hal #sokbijakmodeon #diguyurairdarisurga

Jadi, suatu ketika di masa lalu saya pernah dikucilkan oleh teman-teman saya. Pada awalnya saya tidak sadar kalau saya dijauhi karena saya bersalah. Baru setelah saya dilabrak dan diinjak-injak harga diri saya habis-habisan baru saya tahu; saya bersalah. Lucunya, setulus apapun saya meminta maaf, saya tetap bersalah. Ternyata maaf aja gak cukup untuk menjadikan orang lain memperbaiki kesalahan.

Di lain kesempatan saya pernah bertanya kepada CX begini,

“Bagaimana rasanya jika kamu menganggap salah seorang temanmu sebagai teman karib, kalian berpergian, bercanda, bercerita dan menghabiskan waktu bersama tetapi ternyata teman karibmu itu bahkan tidak merasa kamu special, sebagaimana kamu menspesialkan temanmu itu?”.


Saya sering mengalaminya. Saya menganggap banyak orang sebagai teman, tetapi banyak orang tidak menganggap saya sebagai teman. Atau saya menganggap teman, dan si teman pun menganggap saya teman, tapi pada akhirnya semua menusuk saya dari belakang. Hidup ini…. mengerikan, bukan?


Sejak kecil seingat saya, orang tua saya hanya berkata, “Jangan begitu, yang baik sama temannya. Nanti ndak ada yang mau berteman sama kamu kalau kamu jahat”. Tapi orang tua saya tidak pernah memberitahu saya apa yang dimaksud dengan `baik` dan `jahat`, sebab nyatanya sebaik apapun saya terhadap orang lain, saya tetap dianggap jahat.


Meski demikian saya jadi banyak belajar.

  • Belajar bahwa meski berteman itu sulit, selalu ada cara untuk menjadikan pribadi ini lebih baik dari sebelumnya. 
  • Belajar bahwa meski pertemanan saya selalu bertepuk sebelah tangan, selalu ada kenikmatan dibalik kekecewaan berteman. 
  • Belajar bahwa selalu ada pelajaran baru mengenai berteman setiap saya bertemu orang baru.
  • Belajar untuk menerima dengan tulus kehadiran orang-orang di sekitar saya, dan tugas saya untuk membina tali silahturahmi.

صَلَّى اللّهُ عَلَى مُحَمَّد - صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّم 

6 komentar:

  1. yaah, pengalaman adalah guru yang terbaik *sambil ngupil*

    BalasHapus
    Balasan
    1. yep!
      belajar dari pengalaman emang kadang bikin galau, tapi guru terbaik selalu mengajarkan kita hal baik dengan cara terbaik :P

      Hapus
  2. aq jg sering mengalami, aq merasa bgitu bodoh, dr kecil aqgtw apa arti persahabatan, yg q tau hnya bhw aq hrs memenuhi tuntutan ortu trutama bpk. Disaat org lain mnikmati masa2 skolah, kuliah n kerja dgn shbt2nya, aq malah sering sndiri, jk bersama pun terasa hambar mirip2 yg km critakan, kdng aq yg mdh bosan, egoku tinggi krn hsl didikan, smua serba rumit rasanya, kdng aq muak dgn smua ini. Kyk skr nih aq lg muak, pngen menghilang aja rasanya,, maaf nih numpang curhat hehe. Tetep cemungudh bro!

    BalasHapus
    Balasan
    1. hahahaha, terima kasih sudah berkunjung!

      tetap semangat dalam jalani hidup. ingat, Allah selalu memberikan kita yang terbaik! :)

      Hapus