Sabtu, 24 Desember 2011

Mempertanyakan Lagi Kadar Keikhlasan Kita



Suatu hari seorang teman sedang nongkrong di kantin kampus. Lalu ia didatangi oleh seorang yang disebut sebagai pengemis. Pengemis ini seorang wanita paruh baya, tidak ada anggota badan yang cacat, fasih berbicara dan komunikatif, lincah, sedangkan selebihnya penampilan pengemis pada umumnya yakni lusuh dan seolah tak terawat.

Pengemis (P) : “Mas, nyuwun mas… nyuwun…”
Teman (T) : “Ngaputen, mboten wonten mbak…”
P : “Seikhlasnya mas…”
T : ”Mboten wonten mbak…”
P : “Seikhlasnya mas…”
T : *membuka dompet dan mengeluarkan segala uang yang tersisa di dalamnya*

Pengemis yang lain yakni ia perempuan paruh baya, tubuhnya mengalami kritenisme –kerdil, suaranya kekanakan, cacat pada sebelah mata, lincah, fasih berbicara dan komunikatif, penampilannya tidak bisa dibilang lusuh atau tak terawat. Dirinya sendiri bahkan mengaku bukan pengemis.

P : “Tolong ya mas, saya butuh buat bayar kontrakan. Bayar kontrakan saya itu dua ratus ribu. Saya ini bukan pengemis. Saya sekolah kok, tapi di sekolah luar biasa. Saya ini belum tua, saya masih kelas 4 SD kok. Tolong saya ya mas. Soalnya kalau gak segera bayar nanti saya diusir, mas.”

T : “Maaf, saya lagi nggak ada uang mbak.”

P : “Kok mbak? Saya ini masih kecil lho. Saya tidak tahu apa-apa. Saya bukan pengemis kok. Saya hanya minta belas kasihan dari mas, karena saya tidak punya uang untuk bayar kontrakan. Saya sudah gak punya orang tua lagi. Seikhlasnya aja kok mas.”

T : “Maaf, dek. Saya beneran nggak ada uang.”

P : “Lho mas, tolong saya. Ini seikhlasnya aja kok. Masa mas nggak punya uang?”

T : *akhirnya memberikan selembar uang dengan nominal besar daripada nominal seribuan atau receh lima ratusan karena untuk menyumbang bayar kontrakan*

P : “Wah, ini sih masih kurang mas. Saya harus bayar kontrakan dua ratus ribu mas. Ini uang saya baru *nominal yang cukup besar sambil menunjukkan uang yang didapatkannya*. Saya gak ngemis kok mas. Seikhlasnya aja kok mas.”

T : * akhirnya memberikan nominal yang diminta.*

P : “Terima kasih ya mas. Saya doakan semoga mas tambah rejekinya.”


Dewasa ini rasanya ironis lihat pengemis di sekitar lingkungan saya. Mereka ternyata tidak kalah pintar dibanding koruptor-koruptor di negeri saya. Mungkin mereka tahu, daripada mereka mencuri sandal, ayam, atau buah mangga tetangga kemudian akan dikenakan hukuman jutaan tahun penjara, lebih baik mereka mengemis. Toh, koruptor di negeri ini jika ketahuan korupsi hanya diberi sangsi tak sampai lima tahun penjara atau bahkan dibebaskan.

Dan di negeri yang mulai gencar melakukan aksi-aksi keagamaan suatu agama tertentu, ternyata momen ini digunakan oleh para pengemis untuk melancarkan misinya. Ikhlas, materi yang kerap dibahas entah dangkal atau mendalam di media massa kita. Bahwasannya jika ikhlas maka akan ada kerelaan untuk memberi. Jika ikhlas maka pahala akan dilipatkan oleh Sang Hyang Widhi. Jika tidak ikhlas anda akan mencemarkan agama anda yang senantiasa mengajarkan dan identik pada keikhlasan.

Kemudian menjadi dilema ketika pihak satu mengatakan jangan memberi pada pengemis karena mereka tidak berusaha untuk bekerja dan hanya meminta-minta, enak betul. Lah, kalau bagi mereka pekerjaan mereka adalah mengemis karena negara tidak bisa memberikan pekerjaan lain, gimana? Dilema lain ketika akhirnya memberikan nominal tertentu dengan kondisi seperti dua contoh di atas, didesak terus oleh kata sakti `seikhlasnya`. Atau bagaimana jika memberikan karena memang ingin sedekah, padahal itu melanggar pasal jangan memberi pada pengemis?

Bahwasannya apa yang dielu-elukan pemerintah tentang kemajuan ekonomi negeri ini jejaknya tidak kelihatan. Malah pengemis yang pintar makin banyak, yah, setidaknya mereka tidak korupsi. Nah, yakin ikhlas?

16 komentar:

  1. saya ikhlas kok memberikan komen disini ... entah saran or pujian yg jelas bukan makian ... hehehe ...salam kenal n mampir ya ... :P

    BalasHapus
  2. hahaha..
    pinter-pinter ya pengemis jaman sekarang ini.

    BalasHapus
  3. duluan nih...

    menurut persepsi saya pribadi pengemis sekarang *khususnya kota saya. adalah pengemis buatan, dikota saya, pengemis punya rumah dan tv dan biasanya pendatang, saya tidak tau dikota anda.,,

    tapi ada juga kok yang bukan pengemis, dan mereka orang-orang miskin yang masih punya harga diri dan bekerja giat, bisa anda temukan di pasar tradisional orang-orang seperti ini, bukan pengemis yang nongkrong diperempatan dan dipinggir jalan.

    BalasHapus
  4. sudah minta, dikasih malah minta yang lebih padahal awalnya bilang seikhlasnya.

    memang terkadang ada juga pengemis gadungan yang berpura2 menjadi pengemis padahal sebenarnya tidak!

    BalasHapus
  5. hehe itu minta apa meramp0k dg halus? haha

    BalasHapus
  6. maksa ya mas mintanya,,,aq pernah juga ngasi duit 50an eh dibuang didepan aku,wakkkakakakaka

    BalasHapus
  7. wahahah.yang jelas POLISI TUKANG NGILANG ga ada bedanya sm pengemis.malah polisi tkg nilang ngemisnya maksa sambil nganceem.heheheh hepinuyeehhh

    BalasHapus
  8. sudah minta, dikasih malah minta yang lebih padahal awalnya bilang seikhlasnya.

    memang terkadang ada juga pengemis gadungan yang berpura2 menjadi pengemis padahal sebenarnya tidak!

    BalasHapus
  9. SUlit ikhlas,.,,tapi bisakalau ada niat..


    Kalo soal pengemis... saya jarang ngasih, dan jarang didaerah saya yang ngeyel kayak contoh diatas, apa lagi contoh yang kedua..itu perampok.. Haha...
    masak 200rb...

    BalasHapus
  10. Kenapa repot2 meladeni percakapan itu?
    Kalau saya lagi berdiri atau lagi jalan, langsung aja ngacir entah ke mana. Jalan aja sok sibuk gitu, sok lihat jam tangan. Udah jauh, noleh ke belakang dikit, kalo si pengemis udah gak ada, baru saya balik lagi.

    Kalau saya lagi makan di warung, ada pengemis, gak saya ladeni. Tetep gak saya ladeni meski dia ngomnong gimanapun juga. KECUALI saya ada uang receh. Saya kasih aja itu.

    PERKECUALIAN, kalau memang pengemisnya difabel dan tampak benar2 difabel, kemungkinan besar saya kasih.

    BalasHapus
  11. wah, siklasnya tapi kok memaksa, ya? :(
    btw, happy new year :)

    BalasHapus
  12. kalo koruptor tuh murni menjahati masyarakat
    kalo pengemis ada yg asli ada yg palsu
    nah lho...???

    BalasHapus
  13. Wew,,,ngemisnya maksa banget,,,,untung baik tu yang mau ngasih,,,

    BalasHapus
  14. hah masa si mbak ipah ada pengemis yang maksa gitu... waduh gimana ya kalo saya ketemu sama mereka. (mulai aneh) pasti saya bingung dan mikir, ini pengemis apa peminta ya?

    BalasHapus
  15. wah iya saya juga sering mendapat cerita seperti.
    kesannya kok maksa banget yaa.

    BalasHapus