Posting seri refleksi diri nih!
Suatu hari seorang teman sedang nongkrong di kantin kampus. Lalu
ia didatangi oleh seorang yang disebut sebagai pengemis. Pengemis ini seorang
wanita paruh baya, tidak ada anggota badan yang cacat, fasih berbicara dan
komunikatif, lincah, sedangkan selebihnya penampilan pengemis pada umumnya
yakni lusuh dan seolah tak terawat.
Pengemis (P) : “Mas, nyuwun mas… nyuwun…”
Teman (T) : “Ngaputen, mboten wonten mbak…”
P : “Seikhlasnya mas…”
T : ”Mboten wonten mbak…”
P : “Seikhlasnya mas…”
T : *membuka dompet dan mengeluarkan segala uang yang
tersisa di dalamnya*
Pengemis yang lain yakni ia perempuan paruh baya, tubuhnya
mengalami kritenisme –kerdil, suaranya kekanakan, cacat pada sebelah mata,
lincah, fasih berbicara dan komunikatif, penampilannya tidak bisa dibilang
lusuh atau tak terawat. Dirinya sendiri bahkan mengaku bukan pengemis.
P : “Tolong ya mas, saya butuh buat bayar kontrakan. Bayar kontrakan
saya itu dua ratus ribu. Saya ini bukan pengemis. Saya sekolah kok, tapi di
sekolah luar biasa. Saya ini belum tua, saya masih kelas 4 SD kok. Tolong saya ya
mas. Soalnya kalau gak segera bayar nanti saya diusir, mas.”
T : “Maaf, saya lagi nggak ada uang mbak.”
P : “Kok mbak? Saya ini masih kecil lho. Saya tidak tahu
apa-apa. Saya bukan pengemis kok. Saya hanya minta belas kasihan dari mas, karena
saya tidak punya uang untuk bayar kontrakan. Saya sudah gak punya orang tua
lagi. Seikhlasnya aja kok mas.”
T : “Maaf, dek. Saya beneran nggak ada uang.”
P : “Lho mas, tolong saya. Ini seikhlasnya aja kok. Masa mas
nggak punya uang?”
T : *akhirnya memberikan selembar uang dengan nominal besar
daripada nominal seribuan atau receh lima ratusan karena untuk menyumbang bayar
kontrakan*
P : “Wah, ini sih masih kurang mas. Saya harus bayar
kontrakan dua ratus ribu mas. Ini uang saya baru *nominal yang cukup besar
sambil menunjukkan uang yang didapatkannya*. Saya gak ngemis kok mas. Seikhlasnya
aja kok mas.”
T : * akhirnya memberikan nominal yang diminta.*
P : “Terima kasih ya mas. Saya doakan semoga mas tambah
rejekinya.”
Dewasa ini rasanya ironis lihat pengemis di sekitar
lingkungan saya. Mereka ternyata tidak kalah pintar dibanding koruptor-koruptor
di negeri saya. Mungkin mereka tahu, daripada mereka mencuri sandal, ayam, atau
buah mangga tetangga kemudian akan dikenakan hukuman jutaan tahun penjara,
lebih baik mereka mengemis.
Toh, koruptor di negeri ini jika ketahuan korupsi
hanya diberi sangsi tak sampai lima tahun penjara atau bahkan dibebaskan.
Toh, koruptor di negeri ini jika ketahuan korupsi
hanya diberi sangsi tak sampai lima tahun penjara atau bahkan dibebaskan.
Dan di negeri yang mulai gencar melakukan aksi-aksi
keagamaan suatu agama tertentu, ternyata momen ini digunakan oleh para pengemis
untuk melancarkan misinya. Ikhlas, materi yang kerap dibahas entah dangkal atau
mendalam di media massa kita. Bahwasannya jika ikhlas maka akan ada kerelaan
untuk memberi. Jika ikhlas maka pahala akan dilipatkan oleh Sang Hyang Widhi.
Jika tidak ikhlas anda akan mencemarkan agama anda yang senantiasa mengajarkan
dan identik pada keikhlasan.
Kemudian menjadi dilema ketika pihak satu mengatakan jangan memberi
pada pengemis karena mereka tidak berusaha untuk bekerja dan hanya
meminta-minta, enak betul. Lah, kalau bagi mereka pekerjaan mereka adalah
mengemis karena negara tidak bisa memberikan pekerjaan lain, gimana?
Dilema
lain ketika akhirnya memberikan nominal tertentu dengan kondisi seperti dua
contoh di atas, didesak terus oleh kata sakti `seikhlasnya`. Atau bagaimana
jika memberikan karena memang ingin sedekah, padahal itu melanggar pasal jangan
memberi pada pengemis?
Dilema
lain ketika akhirnya memberikan nominal tertentu dengan kondisi seperti dua
contoh di atas, didesak terus oleh kata sakti `seikhlasnya`. Atau bagaimana
jika memberikan karena memang ingin sedekah, padahal itu melanggar pasal jangan
memberi pada pengemis?
Bahwasannya apa yang dielu-elukan pemerintah tentang
kemajuan ekonomi negeri ini jejaknya tidak kelihatan. Malah pengemis yang
pintar makin banyak, yah, setidaknya mereka tidak korupsi. Nah, yakin ikhlas? 

semoga kalian berkunjung kembali ~♥








saya ikhlas kok memberikan komen disini ... entah saran or pujian yg jelas bukan makian ... hehehe ...salam kenal n mampir ya ... :P
BalasHapushahaha..
BalasHapuspinter-pinter ya pengemis jaman sekarang ini.
duluan nih...
BalasHapusmenurut persepsi saya pribadi pengemis sekarang *khususnya kota saya. adalah pengemis buatan, dikota saya, pengemis punya rumah dan tv dan biasanya pendatang, saya tidak tau dikota anda.,,
tapi ada juga kok yang bukan pengemis, dan mereka orang-orang miskin yang masih punya harga diri dan bekerja giat, bisa anda temukan di pasar tradisional orang-orang seperti ini, bukan pengemis yang nongkrong diperempatan dan dipinggir jalan.
sudah minta, dikasih malah minta yang lebih padahal awalnya bilang seikhlasnya.
BalasHapusmemang terkadang ada juga pengemis gadungan yang berpura2 menjadi pengemis padahal sebenarnya tidak!
hehe itu minta apa meramp0k dg halus? haha
BalasHapusmaksa ya mas mintanya,,,aq pernah juga ngasi duit 50an eh dibuang didepan aku,wakkkakakakaka
BalasHapuswahahah.yang jelas POLISI TUKANG NGILANG ga ada bedanya sm pengemis.malah polisi tkg nilang ngemisnya maksa sambil nganceem.heheheh hepinuyeehhh
BalasHapussudah minta, dikasih malah minta yang lebih padahal awalnya bilang seikhlasnya.
BalasHapusmemang terkadang ada juga pengemis gadungan yang berpura2 menjadi pengemis padahal sebenarnya tidak!
SUlit ikhlas,.,,tapi bisakalau ada niat..
BalasHapusKalo soal pengemis... saya jarang ngasih, dan jarang didaerah saya yang ngeyel kayak contoh diatas, apa lagi contoh yang kedua..itu perampok.. Haha...
masak 200rb...
Kenapa repot2 meladeni percakapan itu?
BalasHapusKalau saya lagi berdiri atau lagi jalan, langsung aja ngacir entah ke mana. Jalan aja sok sibuk gitu, sok lihat jam tangan. Udah jauh, noleh ke belakang dikit, kalo si pengemis udah gak ada, baru saya balik lagi.
Kalau saya lagi makan di warung, ada pengemis, gak saya ladeni. Tetep gak saya ladeni meski dia ngomnong gimanapun juga. KECUALI saya ada uang receh. Saya kasih aja itu.
PERKECUALIAN, kalau memang pengemisnya difabel dan tampak benar2 difabel, kemungkinan besar saya kasih.
wah, siklasnya tapi kok memaksa, ya? :(
BalasHapusbtw, happy new year :)
kalo koruptor tuh murni menjahati masyarakat
BalasHapuskalo pengemis ada yg asli ada yg palsu
nah lho...???
Wew,,,ngemisnya maksa banget,,,,untung baik tu yang mau ngasih,,,
BalasHapusnice share
BalasHapusThanks
hah masa si mbak ipah ada pengemis yang maksa gitu... waduh gimana ya kalo saya ketemu sama mereka. (mulai aneh) pasti saya bingung dan mikir, ini pengemis apa peminta ya?
BalasHapuswah iya saya juga sering mendapat cerita seperti.
BalasHapuskesannya kok maksa banget yaa.