Logika Korupsi Sebagai Mata Pencaharian Baru


السلام عليكم ورحمة الله وبركاته


taken from here


Alhamdulillah...
Semoga senantiasa diridhoi posting, amiin!

Aku kenal korupsi sejak SMP, yakni pada mata pelajaran Pendidikan dan Kewarganegaraan (PPKN). Bahwasannya senantiasa disebutkan korupsi merupakan tindakan yang sangat merugikan. Teman-teman si korupsi ini adalah Kolusi dan Nepotisme.

Sedangkan arti korupsi yang aku tangkap itu mengambil secara diam-diam, tanpa sepengetahuan pihak terkait, dan yang diambil adalah sesuatu yang bukan haknya. Kalau dipikir-pikir hampir sama kayak definisi maling ya. Maaf, harap maklum atas keterbatasan dan keterbelakanganku zzzzzzzzz. Silahkan buka google atau KBBI untuk definisi pastinya.


Dulu cuma diberitahu definisinya dan contoh-contoh sepelenya aja, itu buruk, ini baik. Makanya aku cukup kaget masalah korupsi di negeri ini bisa sepelik seperti yang digambarkan dan diceritakan di media massa. Bukannya kalau ada orang jahat ya tinggal dihukum, dimasukin penjara? Lalu beres semua perkara. Gitu sih mikirnya dulu, anak SD banget. 

Tapi, bagaimana kalau yang ngehukum itu sama-sama orang jahat, lalu mereka berkonspirasi untuk mengkondisikan kejahatan yang dihukum terlihat bukan sebagai kejahatan? Atau bagaimana kalau orang yang dituduh jahat itu sebenarnya baik hanya karena ada yang menggerakkan dia untuk jadi jahat, maka dia jadi jahat?

Oke, lupakan keribetan di atas.

Menurut hematku, korupsi dapat menjadi indikator belum terciptanya kesejahteran yang merata untuk segenap warga Indonesia –baik warga yang disahkan KTP ataupun bukan.

Seperti yang dilansir dari iklannya KPK tentang antikorupsi yang baru-baru ini tayang di televisi, korupsi ada karena berbagai kondisi yang mengkonstruksikan kita untuk melakukan tindak korupsi itu sendiri. Untuk kasus korupsi yang selama ini tayang di media massa adalah korupsi uang.

Nah, kenapa mereka harus korupsi uang yang sebanyak itu? Padahal yang diketahui selama ini orang-orang yang korupsi adalah orang-orang kaya-raya, para pejabat tinggi Negara. Apakah kaya merupakan suatu indikator kesejahteraan? Kalau menurutku sih bukan. Sebab orang kaya itu tuntutannya banyak, men. Mulai dari biaya menjadi sosialita hingga… hingga apa ya? Coba tanyakan pada teman-teman yang kaya saja untuk detailnya. Biaya hidup di Indonesia saja sudah tinggi, apalagi harus menuruti standarisasi biaya hidup orang kaya yang memang sejak awal sudah tinggi. Hayo?

Oke, maaf ribet lagi.

Jadi, di sini korupsi menjadi sumber mata pencaharian baru bagi para pelakunya. Hitung-hitung sambilan untuk menambah gaji pokok. Itu juga hak mereka sih dan aku di sini tidak bicara tentang moralitas. Soal mereka beriman atau tidak, berideologi atau tidak, kembali kepada mereka sendiri. Toh karena para pelaku korupsi itu bermoral maka mereka tidak terima dikenai tuduhan sebagai korupsi dan membela habis-habisan dirinya di persidangan.

Makanya iklan KPK yang baru itu kalau menurutku lebih untuk mengembalikan citra KPK yang akhir-akhir ini dikatakan kinerjanya mawut. Kalau memang mereka benar-benar bisa menuntaskan kasus-kasus yang ada, mereka tidak perlu mengandalkan kesadaran moral orang-orang yang belum korupsi atau tidak korupsi.

Maaf, postingan kali ini banyak mengulang kata `kalau` dan `menurutku`. Soalnya iseng aja berandai-andai yang tidak penting #plak. Akhir kata, nah, tertarik untuk korupsi?

NB: silahkan baca Between The Assasinations yang cerita The Bunder. really inspiring me to think about corruption~~

صَلَّى اللّهُ عَلَى مُحَمَّد - صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّم


milkysmile
semoga kalian berkunjung kembali ~♥

Komentar

  1. hehe mantap info gan
    mampir
    http://laptopsandtabletsreviews.blogspot.com/

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sedikit Catatan KKN di Jikotamo, Pulau Obi

Drama India dan Imajinasi Tentang Ibu Mertua

Remaja Perempuan dan Organisasi Desa: Cerita dari RW 55 Krapyak