this pict taken from here
Alhamdulillah..
Senantiasa bersyukur bisa posting lagi
`Orang Solo kok kasar?!`
Kira-kira begitulah teriakan yang dilontarkan salah seorang
senior yang bisa saya ingat, ketika ospek jurusan kepada saya. Dan teriakan
senior tersebut seraya mengamini masalah identitas yang sejak SMP saya
pikirkan; saya sebenarnya orang mana? Sebelumnya, dosen saya pun sempat turut
mempertanyakan asal saya, berikut teman-teman saya.
Lahir di Jawa, menghabiskan masa kecil di Aceh dan menjalani
proses menuju dewasa di Jawa lagi, ternyata bukan semata masalah tempat tinggal
yang nomaden. Tinggal di keluarga dengan dua kultur yang berbeda, yakni ayah
orang aceh tulen dan ibu orang jawa asli, semakin membuat masa-masa remaja saya
absurd.
Di Solo dibilang orang Aceh, di Aceh dibilang orang Jawa, di tempat
rantau malah dibilang yang enggak-enggak #DZIGH
`Lho kamu orang aceh to? Mukanya lumayan kayak orang aceh
sih.`
`Orang aceh kok gak berjilbab?`
`Katanya orang aceh, kok gak bisa bahasa aceh?`
Atau
`Lho kok kamu medok banget gak kayak mas-mbakmu?`
`Orang Solo kok pecicilan? Mbok yang lemah-lembut…`
Memang sih di keluarga saya, saya yang disebut paling
njawani. Saya bisa bahasa jawa ngoko dan kromo, sempat menari tarian putra
alus, bisa menulis aksara jawa, dan dapat banget medok jawanya. Tapi manner
orang jawa tidak terinternalisasi dalam diri saya. Mungkin karena di rumah
saya, manner orang jawa yang khusus tidak pernah diajari. Di rumah, ayah-ibu
menggunakan manner orang aceh juga. Sehingga saya mendapatkan cara berbicara
yang lantang dan sikap lugas dari sana
, meski saya tidak bisa berbahasa aceh
atau mengerti detail-detail tentang aceh. Dari segi bahasa, orang tua saya
tidak menspesifikkan kepada salah satunya, jadi bahasa pokok saya ya bahasa
Indonesia.
Tapi saya pikir-pikir bahwasannya wajar orang melekatkan
streotipe orang-orang dari suku, ras tertentu pada saya ketika saya menyebutkan
daerah asal saya. Dan wajar pula mereka berkomentar ini-itu ketika melihat saya
tidak sesuai dengan streotipe yang mereka ketahui.
`Jika orang Brazil ditanya, mereka orang mana? Mereka akan menjawab bahwa mereka orang Amerika Latin, lantas kemudian baru melanjutkan dengan mereka dari Brazil. Sedangkan jika orang Jawa ditanya, mereka orang mana? Mereka akan menjawab bahwa mereka orang Jawa, kadang atau tidak sama sekali kemudian melanjutkan mereka adalah orang Indonesia.`
- Om Halim
Dari kata-kata Om Halim kemudian aku sadar. Untuk menghadapi
multikulturalisme dalam keluarga saya dan identitas saya, akhirnya saya
memutuskan akan menjawab `saya orang Indonesia!` jika ditanya saya orang mana.
Toh tempat lahir, suku asal orang tua dan tempat tinggal pun asal saya
(sekarang saya merantau) hanyalah tambahan informasi saja. Identitas saya;
Indonesia!
`Dengan rendah hati aku mengakui: aku adalah bayi semua
bangsa dari segala jaman, yang telah lewat dan yang sekarang. Tempat dan waktu
kelahiran, orang tua, memang hanya suatu kebetulan, sama sekali bukan sesuatu
yang keramat.` - Pramoedya AT.
semoga kalian berkunjung kembali ~♥









Kalau saya orang Kalbar :D tapi tetap Bangsa Indonesia :D
BalasHapusA: dia orang mana, laki2 ko kaya perempuan?
BalasHapusB: maksudnya?
A: lemah lembut gitu
B: oh dia orang solo
A: oh dia orang solo toh
B: iya dia wong solowesi...
A: @*&^%!$
just kidding.
kalo saya blasteran, dari timur tengah. jawa timur dan jawa tengah:D ohoho
BalasHapusSaya orang Bali tapi karena Papa saya orang Bali yang tidak berjiwa Bali jadinya saya ikut-ikutan begitu. Tapi ya tetep cinta Bali, dan pastinya cinta Indonesia juga ;)
BalasHapus