Minggu, 18 Juni 2017

Merayakan Hari-hari Terakhir di Kampus

suasana fakultas paska ditinggal KKN dan pulkam


Saya tidak pernah menghabiskan waktu di kampus lantaran memiliki ikatan emosional yang tidak begitu baik dengan kampus. Namun, karena saya membutuhkan tempat yang tenang, koneksi WiFi lancar, terdapat tanaman hijau, dekat dengan musholla, bisa minum air putih gratis, dengan colokan listrik yang melimpah, akhirnya saya mau tidak mau kembali juga ke kampus (tepatnya ke fakultas). Lagi pula ini hari-hari terakhir saya sebelum saya bertaubat dan memutuskan untuk segera lulus sebelum di-DO. Tidak banyak memang yang bisa diharapkan kepada kampus yang terus mempertinggi biaya mahasiswa untuk menuntut ilmu di dalamnya.

Rabu, 24 Mei 2017

Pencerahan Bermedia Sosial: Literasi Media di Internet


السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
gambar dari FancyQuote


Tulisan ini tidak berawal dari mana pun kecuali dari penyesalan diri saya sendiri atas proses bermedia sosial dan penggunaan internet yang tidak sesuai dengan kaidah kepatutan dan kebenaran. Proses tersebut terjadi pada fase awal saya kenal internet yakni melalui SMS, Friendster dan MIRC saat SMP, diikuti dengan MXIT, facebook, blogger, dan BBM saat SMA, dan fase twitter, WhatsApp, Line dan instagram saat kuliah. Sebagai generasi yang akrab dengan internet, saya merasa senang sekaligus gelagapan dengan hilangnya batasan ruang di dunia maya. Pada proses tersebut saya kemudian memanfaatkan media sosial sesuka saya, tanpa mempertimbangkan orang lain.

Jumat, 12 Mei 2017

Menanam adalah Melawan: Surat untuk Y di B


السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

gambar dari google

Ada banyak hal yang semula tidak aku ketahui, lalu di waktu ke depan aku mengetahuinya. Ternyata pengetahuan itu mengerikan. Ia memberikan kita akses tidak terbatas kepada kebenaran dan kebohongan, atau ruang abu-abu di antaranya. Maka memang sepantasnya perempuan diputuskan aksesnya terhadap pengetahuan yang biasa kita raih melalui pendidikan, sebab pengetahuan mampu menjadikan kita tuan terhadap keinginan-keinginan dari diri kita. Padahal itu yang ditakuti oleh kultur patriarki, kapitalisme dan feodalisme: perempuan berdaya dengan kakinya sendiri.

This entry was posted in