Postingan

Buku-buku Murah: Godaan dan Ajakan untuk Memajukan Taman Baca

Gambar
gambar dari tempo.co
Bagi seorang yang lebih gemar membeli buku daripada membaca buku, beberapa waktu belakangan hidup saya diguncang oleh kejadian-kejadian yang berbahaya! Pertama, saya diikuti oleh akun-akun penjual buku online di Instagram (ternyata ada banyak banget penjual buku online!). Kedua, belum lama ini sebuah penerbit besar mengadakan event bazaar buku murah dan event diskon cukup besar beberapa kali dalam satu tahun. Ketiga, teman saya mulai menjual buku-buku fiksi koleksinya dengan harga murah. Keempat, mulai ada beberapa toko buku di kota saya yang menjual buku-buku murah.
Reaksi saya pertama kali jelas senang karena buku-buku ini sangat murah, padahal kualitasnya bagus-bagus. Meskipun kemudian saya mulai geleng-geleng kepala karena uang yang dimiliki tidak sebanding dengan jumlah buku yang ingin terus dibeli. Serta rasa bersalah yang terus menumpuk seiring banyaknya buku yang saya tumpuk tanpa pernah saya baca. Rasa bersalah lainnya muncul saat saya menyadari bahwa di…

Bagian dari Diri yang Sulit Dihilangkan

Gambar
gambar dari tumblr.


Saya baru saja jatuh sakit tepat seminggu lalu (sebenarnya 2 minggu tapi yang seminggu awal tidak begitu parah, hanya salah urat sialan). Selama menjalani bedrest karena drop ter-horror yang pernah saya jalani, ingatan saya mencoba mengajak saya mengenang kembali masa kecil saya. Masa saat saya sering sakit-sakitan. Saat saya berusia 5 hingga 8 tahun karena terlampau sering jatuh sakit, saya tidak memiliki kesempatan untuk bergaul dengan anak-anak seusia saya. Tubuh saya yang terlalu kurus dan wajah yang terlalu sayu, membuat penampilan saya sangat aneh. Saya juga sangat jarang masuk sekolah. Saya lebih sering mengurung diri di rumah. Saya tumbuh menjadi anak yang selalu cemberut dan menggerutu, seolah hidup adalah kesialan tanpa batas.

Merayakan Hari-hari Terakhir di Kampus

Gambar
suasana fakultas paska ditinggal KKN dan pulkam

Saya tidak pernah menghabiskan waktu di kampus lantaran memiliki ikatan emosional yang tidak begitu baik dengan kampus. Namun, karena saya membutuhkan tempat yang tenang, koneksi WiFi lancar, terdapat tanaman hijau, dekat dengan musholla, bisa minum air putih gratis, dengan colokan listrik yang melimpah, akhirnya saya mau tidak mau kembali juga ke kampus (tepatnya ke fakultas). Lagi pula ini hari-hari terakhir saya sebelum saya bertaubat dan memutuskan untuk segera lulus sebelum di-DO. Tidak banyak memang yang bisa diharapkan kepada kampus yang terus mempertinggi biaya mahasiswa untuk menuntut ilmu di dalamnya.

Pencerahan Bermedia Sosial: Literasi Media di Internet

Gambar
السلام عليكم ورحمة الله وبركاته gambar dari FancyQuote

Tulisan ini tidak berawal dari mana pun kecuali dari penyesalan diri saya sendiri atas proses bermedia sosial dan penggunaan internet yang tidak sesuai dengan kaidah kepatutan dan kebenaran. Proses tersebut terjadi pada fase awal saya kenal internet yakni melalui SMS, Friendster dan MIRC saat SMP, diikuti dengan MXIT, facebook, blogger, dan BBM saat SMA, dan fase twitter, WhatsApp, Line dan instagram saat kuliah. Sebagai generasi yang akrab dengan internet, saya merasa senang sekaligus gelagapan dengan hilangnya batasan ruang di dunia maya. Pada proses tersebut saya kemudian memanfaatkan media sosial sesuka saya, tanpa mempertimbangkan orang lain.

Menanam adalah Melawan: Surat untuk Y di B

Gambar
السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
gambar dari google
Ada banyak hal yang semula tidak aku ketahui, lalu di waktu ke depan aku mengetahuinya. Ternyata pengetahuan itu mengerikan. Ia memberikan kita akses tidak terbatas kepada kebenaran dan kebohongan, atau ruang abu-abu di antaranya. Maka memang sepantasnya perempuan diputuskan aksesnya terhadap pengetahuan yang biasa kita raih melalui pendidikan, sebab pengetahuan mampu menjadikan kita tuan terhadap keinginan-keinginan dari diri kita. Padahal itu yang ditakuti oleh kultur patriarki, kapitalisme dan feodalisme: perempuan berdaya dengan kakinya sendiri.

Drama India dan Imajinasi Tentang Ibu Mertua

Gambar
السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
gambar dari google
belum lama ini saya menetap di sebuah desa di Pulau Sumatera. saya mencoba menghibur diri di desa dengan menonton drama india di televisi bersama ibu-ibu lainnya di rumah mereka. sebab drama india dengan ratusan episode ini tren terbaru, setelah tren drama turki yang mengalahkan drama-nya sinetron Tukang Bubur Naik Haji. saya pun jadi larut dengan kisah-kisah yang dituturkan drama india sambil sesekali menikmati komentar ibu-ibu terhadap dramanya.

Melalui 2017 dengan Mengetahui Lebih Banyak

Gambar
السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
gambar dari google
Beberapa waktu belakangan saya diserang rasa tidak percaya diri akut. Lalu saya mau mencoba untuk tidak posting apapun di media sosial. Mencoba ala-ala anak berprestasi yang gak pernah menggunakan media sosial secara alay. Ternyata gak bisa, karena posting di media sosial itu terapi bagi psikis saya (alesan banget). Maka, hadirlah tulisan perdana di tahun 2017 ini.